Pengertian Positive Reinforcement
Martin dan Pear (Edi Purwanta, 2005: 35) berpendapat bahwa kata “positive reinforcement” sering disamaartikan dengan kata “hadiah” (reward). Muhamad Fahrozin, dkk (2004: 76) mendefinisikan positive reinforcement yaitu stimulus yang pemberiannya terhadap operan behavior menyebabkan perilaku tersebut akan semakin diperkuat atau dipersering kemunculannya.
Sejalan dengan pendapat di atas, Dalyono (2009: 33) mengartikan positive reinforcement sebagai penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas suatu respon. Sedangkan Made Pidarta (2007: 214) mendefinisikan positive reinforcement ialah setiap stimulus yang dapat memantapkan respon pada pengkondisian instrumental dan setiap hadiah yang dapat memantapkan respon pada pengkondisian perilaku.
Soetarlinah Sukadji (Edi Purwanta, 2005: 35) menyatakan apabila suatu stimulus berupa benda atau kejadian itu dihadirkan (yang terjadi sebagai akibat atau konsekuensi suatu perilaku) secara berulang-ulang, sehingga keseringan munculnya perilaku tersebut meningkat atau terpelihara, maka peristiwa itu disebut positive reinforcement.
Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa positive reinforcement adalah suatu stimulus atau rangsangan berupa benda, atau peristiwa yang dihadirkan dengan segera terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan frekuensi munculnya perilaku tersebut.
Tujuan Positive Reinforcement
Syaiful Bahri Djamarah (2005: 118) mengemukakan lima tujuan positive reinforcement dalam interaksi edukatif sebagai berikut.
- Meningkatkan perhatian siswa dan membantu siswa belajar apabila pemberian penguatan digunakan secara
- Memberi motivasi pada siswa dalam proses
- Dipakai untuk mengontrol atau mengubah tingkah laku siswa yang mengganggu, dan meningkatkan cara belajar
- Mengembangkan kepercayaan diri siswa untuk mengatur diri sendiri dalam pengalaman
- Mengarahkan terhadap pengembangan berfikir yang divergen (berbeda) dalam pengambilan inisiatif yang
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa guru memberikan positive reinforcement yang dapat berupa pujian, hadiah kepada siswa memiliki banyak tujuan antara lain untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap mata pelajaran yang sedang diajarkan, mengembangkan rasa percaya diri siswa untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, sehingga motivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dapat meningkat karena siswa akan merasa diperhatikan dan dihargai oleh guru di dalam proses pembelajaran. Selain itu pemberian positive reinforcement dapat mengubah tingkah laku siswa yang kurang baik, dan mempertahankan bahkan meningkatkan tingkah laku siswa yang sudah baik.
Prinsip Penggunaan Positive Reinforcement
Empat prinsip penggunaan positive reinforcement yang harus diperhatikan oleh guru adalah hangat dan antusias, hindari penggunaan penguatan negatif, penggunaan bervariasi, dan bermakna. Syaiful Bahri Djamarah (2005: 123-124) menjabarkan prinsip-prinsip penggunaan positive reinforcement adalah sebagai berikut.
Hangat dan Antusias
Kehangatan dan keantusiasan guru dalam memberikan penguatan kepada siswa memiliki aspek penting dalam tingkah laku dan hasil belajar siswa. Kehangatan dan keantusiasan adalah bagian yang tampak dari interaksi guru dan siswa.
Hindari Penggunaan Penguatan Negatif
Pemberian hukuman atau kritik efektif untuk mengubah motivasi, penampilan, dan tingkah laku siswa. Namun pemberian itu membawa dampak yang sangat kompleks dan secara psikologis agak kontroversial, karena itu sebaiknya dihindari.
Penggunaan Bervariasi
Pemberian penguatan sebaiknya bervariasi baik komponen maupun caranya. Penggunaan komponen dan cara penguatan yang sama dan berulang- ulang akan mengurangi efektivitas pemberian penguatan. Pemberian penguatan juga akan bermanfaat apabila arah pemberiannya bervariasi atau sebaiknya tidak berurutan.
Bermakna
Supaya pemberian penguatan menjadi efektif seharusnya dilaksanakan pada situasi di mana siswa mengetahui adanya hubungan antara pemberian penguatan terhadap tingkah lakunya dan melihat itu sangat bermanfaat bagi siswa. Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan positive reinforcement, seorang guru perlu memperhatikan prinsip- prinsip seperti hangat dan antusias yang berarti menciptakan suasana yang hangat diantara guru dan siswa serta segera menanggapi tingkah laku siswa secara antusias, diusahakan tidak menggunakan penguatan negatif karena penguatan negatif akan berdampak buruk terhadap siswa, memberikan penguatan positif secara bervariasi atau tidak monoton supaya memberikan manfaat bagi siswa, bermakna yang berarti guru memberikan penguatan positif di saat yang paling tepat sehingga siswa akan memahami hubungan penguatan yang guru berikan dengan tingkah laku siswa.
Prosedur Pemberian Positive Reinforcement
Prinsip umum dalam pemberian positive reinforcement adalah kesegeraan. Maksudnya bila perilaku yang telah diinginkan telah muncul dan akan dipelihara atau ditingkatkan maka segeralah diikuti dengan pemberian positive reinforcement. Bila ini dilakukan, maka frekuensi, besaran, dan kualitas perilaku tersebut akan dapat dipertahankan. Martin dan Pear (Edi Purwanta, 2005: 37) menguraikan bahwa dalam pemberian positive reinforcement memiliki prinsip- prinsip prosedur sebagai berikut.
Menyeleksi Perilaku yang akan
Perilaku-perilaku yang diseleksi seharusnya perilaku yang khusus, misalnya tersenyum daripada perilaku yang umum, misalnya bersosialisasi.
Menyeleksi Penguat
- Jika memungkinkan penguat yang dipilih hendaknya penguatan yang kuat dengan rambu-rambu, yaitu telah tersedia, dapat disajikan dengan segera mengikuti perilaku yang diinginkan, dapat digunakan lagi tanpa menyebabkan kejenuhan segera, tidak membutuhkan hubungan waktu yang besar untuk mengolah (jika ini membutuhkan setengah jam untuk mengolah penguat, ini berarti mempersingkat waktu latihan).
- Menggunakan beberapa penguat secara fleksibel dan kapan penguat tersebut digunakan sesuai prosedur yang
Menggunakan Penguat Positif
- Menceritakan kepada individu tentang rencana sebelum latihan
- Memberikan penguat dengan segera yang mengikuti
- Menjelaskan perilaku yang diinginkan kepada individu ketika penguat sedang diberikan (contoh: kamu membersihkan kamarmu dengan sangat indah).
- Menggunakan banyak pujian dan kontak fisik. Untuk menghindari rasa jenuh, semacam frase yang saya gunakan sebagai penguat Jangan selalu mengatakan ini bagus untukmu melainkan, sangat cantik, tepat, dan hebat.
Komponen Positive Reinforcement
Syaiful Bahri Djamarah (2005: 120-122), menyatakan bahwa dalam positive reinforcement atau penguatan positif terdapat enam komponen sebagai berikut.
Penguatan Verbal
Penguatan verbal berupa pujian dan dorongan yang diucapkan guru untuk respon atau tingkah laku siswa. Ucapan tersebut dapat berupa kata-kata bagus, baik, betul, benar, tepat, dan lain-lain.
Penguatan Gestural
Penguatan gestural sangat erat sekali dengan pemberian penguatan verbal. Ucapan atau komentar yang diberikan guru terhadap respon, tingkah laku, atau pikiran siswa dapat dilakukan dengan mimik yang cerah, senyum, anggukan, acungan jempol, atau tepuk tangan. Semua gerakan tubuh tersebut merupakan bentuk pemberian penguatan gestural. Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri gerakan tersebut sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat tercipta interaksi antara guru dan siswa yang menguntungkan.
Penguatan Kegiatan
Penguatan dalam bentuk kegiatan ini banyak terjadi apabila guru menggunakan suatu kegiatan atau tugas sehingga siswa dapat memilih dan menikmatinya sebagai suatu hadiah atas pekerjaan atau penampilan sebelumnya. Memang dalam memilih kegiatan atau tugas hendaknya dipilih yang memiliki relevansi dengan tujuan pelajaran yang dibutuhkan dan digunakan siswa.
Penguatan Mendekati
Perhatian guru terhadap siswa menunjukan bahwa guru tertarik. Secara fisik guru mendekati siswa, dapat dikatakan sebagai penguatan mendekati. Penguatan mendekati digunakan untuk memperkuat penguatan verbal, penguatan tanda, dan penguatan sentuhan.
Penguatan Sentuhan
Penguatan sentuhan erat sekali hubungannya dengan penguatan mendekati. Penguatan sentuhan merupakan penguatan yang terjadi apabila guru secara fisik menyentuh siswa yang bertujuan untuk memberikan penghargaan atas penampilan, tingkah laku, atau kerja siswa.
Penguatan Tanda
Ketika guru menggunakan berbagai macam simbol berupa benda atau tulisan yang ditujukan pada siswa untuk penghargaan terhadap suatu penampilan, tingkah laku, atau kerja siswa, disebut sebagai penguatan tanda.
Positive reinforcement yang dapat diberikan oleh guru dapat bermacam- macam bentuknya antara lain, penguatan verbal, penguatan gestural, penguatan kegiatan, penguatan mendekati, penguatan sentuhan, dan penguatan tanda. Penguatan verbal berkaitan dengan ucapan guru untuk merespon tingkah laku siswa, misalnya saja memberikan pujian berupa bagus, benar, atau tepat kepada siswa yang rajin. Penguatan gestural sangat berkaitan erat dengan gerakan tubuh guru, misalnya saja guru memberikan tepuk tangan, acungan jempol, senyuman atau mimik muka yang cerah. Guru juga dapat memberikan penguatan kegiatan berupa sebuah tugas yang memiliki keterkaitan dengan tujuan pembelajaran yang dirancang menjadi suatu hadiah untuk siswa.
Selain hal tersebut guru dapat mendekati tempat duduk siswa. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai penguatan mendekati. Penguatan mendekati digunakan untuk memperkuat penguatan verbal dan penguatan sentuhan. Penguatan sentuhan berkaitan dengan penguatan mendekati, guru dapat secara fisik menyentuh siswa dengan tujuan memberikan penghargaan atas penampilan siswa. Guru juga dapat memberikan penguatan berupa tulisan, simbol sebagai penghargaan atas penampilan siswa yang dapat disebut penguatan tanda.
Model Penggunaan Positive Reinforcement
Syaiful Bahri Djamarah (2005: 122-123), menuliskan empat model penggunaan positive reinforcement atau penguatan positif yaitu sebagai berikut.
a. Penguatan Seluruh Kelompok
Pemberian penguatan kepada seluruh anggota kelompok dalam kelas dapat dilakukan secara terus menerus seperti halnya pemberian penguatan pada perorangan. Penguatan gestural, verbal, tanda, dan kegiatan merupakan komponen penguatan yang dapat diperuntukkan pada seluruh anggota kelompok.
b. Penguatan yang Ditunda
Penundaan pemberian penguatan dinilai kurang efektif, namun penundaan tersebut dapat dilakukan dengan memberi isyarat verbal bahwa penghargaan akan diberikan kemudian setelah perilaku dimunculkan.
c. Penguatan Partial (sebagian)
Penguatan partial sama dengan penguatan sebagian-sebagian atau penguatan tidak berkesinambungan, diberikan kepada siswa untuk sebagian responnya.
d. Penguatan Perorangan
Penguatan perorangan merupakan pemberian penguatan secara khusus. Pemberian penguatan perorangan dapat dilakukan dengan menyebutkan nama, perilaku, atau penampilan siswa yang bersangkutan.
Positive reinforcement dapat diberikan oleh guru melalui berbagai macam model, antara lain penguatan seluruh kelompok, penguatan yang ditunda, penguatan partial atau sebagian, dan penguatan perorangan. Pemberian penguatan kepada seluruh kelompok di dalam kelas dapat dilakukan secara terus menerus. Apabila pemberian penguatan dinilai kurang efektif untuk tingkah laku siswa pada saat itu, maka dapat dilakukan penundaan dengan memberikan isyarat verbal bahwa penghargaan akan diberikan kemudian hari. Penguatan sebagian dapat diberikan kepada siswa untuk sebagian responnya. Penguatan yang paling khusus adalah penguatan perorangan, karena guru memberikan penguatan dengan menyebutkan nama, perilaku siswa yang bersangkutan secara perorangan dan langsung.
Penjadwalan Positive Reinforcement
Penjadwalan positive reinforcement menguraikan tentang kapan dan bagaimana suatu respon dibuat. Dalyono (2009: 34) mengutarakan penjadwalan penguatan sebagai berikut.
a. Fixed ratio schedule
Penjadwalan yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran, yang mana pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respon setelah terjadi jumlah tertentu dari respon.
b. Variable ratio schedule
Penjadwalan yang didasarkan atas penyajian bahan pelajaran dengan penguat setelah sejumlah rata-rata respon.
c. Fixed interval schedule
Penjadwalan yang didasarkan atas satuan waktu tetap diantara reinforcement.
d. Variable interval schedule
Pemberian reinforcement menurut respon betul yang pertama setelah terjadi kesalahan-kesalahan respon.
Edi Purwanta (2005: 27) mengemukakan kelompok waktu pemberian positive reinforcement adalah sebagai berikut.
- Continous schedule yang artinya setiap ada 2 respon ada hadiah, jika putus habis.
- Partial yang artinya stimulus diikuti respon, berseling-seling, kadang-kadang ada hadiah, kadang tanpa hadiah, antaranya (selang selingnya) dapat interval dapat rasio.
- Fixed interval yang artinya setiap interval waktu tertentu secara fix diberi hadiah. Interval waktu: 3 menit, 7 menit, 9 menit dan seterusnya.
- Variable interval yang artinya setiap waktu bermacam-macam diberi hadiah.
- Fixed ratio yang artinya setiap perbandingan yang fix diberi hadiah: misalnya setiap lima kali diberi satu hadiah, setiap sepuluh kali diberi dua hadiah, dan seterusnya.
- Variable ratio yang artinya setiap beberapa kali tidak tentu, diberi hadiah, misalnya suatu ketika dua kali diberi hadiah, waktu lain lagi t kali baru diberi hadiah.
Penguatan positif dapat diberikan langsung dalam satu waktu saja ketika suatu perilaku yang baik muncul. Pemberian penguatan dapat diberikan ketika sudah muncul jumlah tertentu dari respon, dilihat rata-rata kemunculan respon, diantara respon yang berbeda atau setiap ada respon yang baik langsung diberikan penguatan.
Aplikasi Positive Reinforcement
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian penguatan ialah guru harus yakin bahwa siswa akan menghargainya dan menyadari akan respon yang diberikan. Syaiful Bahri Djamarah, (2005: 119) menuliskan beberapa situasi yang efektif dalam positive reinforcement adalah sebagai berikut.
- Siswa memperhatikan guru, kawan lainnya, dan benda yang menjadi tujuan diskusi.
- Siswa sedang belajar, mengerjakan tugas dari buku, membaca, dan bekerja di papan tulis.
- Menyelesaikan hasil kerja baik selesai penuh atau menyelesaikan format.
- Bekerja dengan kualitas baik (kerapian, ketelitian, keindahan, dan mutu materi).
- Perbaikan pekerjaan (dalam kualitas, hasil, atau penampilan).
- Ada kategori tingkah laku (tepat, tidak tepat, verbal, fisik, dan tertulis).
- Tugas mandiri (perkembangan pada pengarahan diri sendiri, mengelola tingkah laku sendiri, dan mengambil inisiatif kegiatan sendiri).
Pemberian positive reinforcement diberikan kepada siswa pada situasi yang tepat sehingga siswa akan menghargai dan menyadari mengenai respon yang diberikan oleh guru. Jangan sampai pemberian positive reinforcement terjadi pada situasi yang tidak tepat sehingga siswa tidak akan mempedulikannya. Situasi yang efektif untuk memberikan positive reinforcement antara lain pada saat siswa sedang fokus memperhatikan guru, teman lain pada saat berdiskusi, siswa sedang mengerjakan soal di papan tulis, siswa telah menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, siswa sedang berkonsentrasi mengerjakan tugas mandiri dan lain- lain.
Implementasi Positive Reinforcement
Edi Purwanta (2005: 38-66) mengemukakan bahwa positive reinforcement dapat efektif penerapannya apabila mempertimbangkan syarat- syarat sebagai berikut.
Menyajikan Penguatan (Reinforcement)
Penyajian penguatan seketika setelah tindakan atau perilaku berlangsung, lebih efektif daripada penyajian tertunda. Alasannya adalah perilaku tersebut belum diselipi perilaku lain pada saat mendapatkan penguat. Akibatnya efek penguat akan lebih jelas dan tidak terbagi dengan perilaku lain.
Memilih Penguat yang
Tidak semua imbalan dapat menjadi penguat positif (positive reinforcement). Untuk menemukan penguat yang efektif bagi subyek-subyek tertentu, pencarian harus dimulai dari penguat yang paling wajar bagi subyek dan situasinya, dan bila belum ditemukan, baru lambat laun berpindah ke penguat yang artificial. Penguat yang berbentuk ucapan (terima kasih, penghargaan, atau pujian) wajar diberikan dalam berbagai situasi. Tetapi penguat ini tidak selalu efektif pada setiap situasi dan setiap orang. Ada berbagai alternatif pilihan yang dapat dijadikan penguat, yaitu makanan, benda-benda konkret, benda yang dapat ditukar sebagai penguat, aktivitas, dan tindakan bersifat sosial.
Mengatur Kondisi Situasional
Situasi saat penguat diberikan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penguatan tersebut. Pemilihan situasi yang tepat mempunyai dampak positif terhadap terbentuknya dan meningkatnya perilaku yang diharapkan. Tidak semua perilaku perlu diulang setiap waktu. Banyak perilaku yang telah dibentuk, dipelihara, atau ditingkatkan hanya cocok dilaksanakan pada kondisi situasional (waktu, keadaan, dan tempat) tertentu.
Menentukan Kuantitas
Kuantitas penguat ialah banyaknya penguat yang akan diberikan setiap kali perilaku yang dikuatkan muncul. Keputusan tentang kuantitas penguat tergantung pada beberapa pertimbangan. Pertimbangan tersebut antara lain macam penguat, keadaan deprivasinya, dan pertimbangan usaha yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan satu penguatan.
Memilih Kualitas atau Kebaruan Penguat
Kebanyakan orang akan memilih sesuatu yang baru dan berkualitas tinggi. Sesuatu yang baru cenderung menghilangkan kebosanan atau kejenuhan, sehingga dapat menjadi penguat yang kuat. Sebaliknya sesuatu yang baru dapat juga menimbulkan keragu-raguan atau ketakutan sehingga tidak efektif sebagai penguat.
Memberikan Contoh
Penguat yang baru atau yang belum dikenal, dapat tidak efektif karena dapat menimbulkan keragu-raguan atau ketakutan. Karena itu kadang-kadang perlu diperkenalkan dulu dengan memberikan contoh (diberikan kesempatan untuk mencicipi). Bila subjek telah merasakan nikmatnya penguat, stimulus itu dapat mulai dicobakan sebagai penguat.
Menangani Persaingan Asosiasi
Banyak penguat maupun hukuman menimpa perilaku-perilaku seseorang, yang berupa reaksi-reaksi dari lingkungan maupun diri sendiri terhadap perilaku. Beberapa reaksi lebih kuat daripada reaksi lain, beberapa saling bersaing sehingga menimbulkan konflik. Pada umumnya reaksi-reaksi yang memberikan dukungan pada terpenuhinya kebutuhan hidup (pangan, sandang, dan papan) lebih kuat daripada yang memberi pengaruh lain.
Mengatur Jadwal Penguatan
Jadwal pemberian penguat ialah aturan yang dianut pemberi penguat dalam menentukan diantara sekian kali suatu perilaku timbul, kapan atau yang mana yang akan mendapat penguat. Macam-macam jadwal penguatan adalah jadwal penguatan terus menerus (continous reinforcement schedule atau CRS) ialah penguatan yang diberikan terus menerus setiap perilaku sasaran timbul, dan jadwal penguatan berselang atau jadwal penguatan sebagian (intermittent reinforcement schedule atau IRS) ialah penguatan yang diberikan tidak terus menerus setiap kali perilaku sasaran timbul. Jadi hanya sebagian saja yang mendapat penguat.
Menangani Efek Kontrol Kontra
Kontrol kontra ialah kontrol atau pengaruh yang sadar atau tidak sadar dilakukakan oleh subyek terhadap orang yang memberi penguatan. Kontrol kontra akan menurunkan efektifitas penguat, karena akan mendorong rasa iba atau belas kasihan yang pada akhirnya penguat kurang bekerja dengan baik.
Positive reinforcement dapat efektif penerapannya apabila mempertimbangkan syarat-syarat antara lain memberikan penguatan seketika setelah tindakan atau perilaku berlangsung tanpa menunda, memilih penguat yang paling tepat dengan perilaku yang dilakukan, memilih waktu yang paling tepat, menentukan jumlah penguat yang akan diberikan sesuai porsinya, memilih penguat yang paling bagus, dan mengatur jadwal pemberian penguatan dengan baik. Apabila guru memperhatikan hal-hal tersebut ketika memberikan penguatan kepada siswannya, maka hasilnya pasti akan lebih efektif.
Sumber Bacaan
Edi Purwanta. (2005). Modifikasi Perilaku. Jakarta: Departemen Pendidikan tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
Muhamad Fahrozin, dkk. (2004). Pemahaman tingkah laku. Jakarta: Rineka Cipta.
Dalyono. (2009). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah. (2005). Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan teoritis Psikologis. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Tags: Aplikasi Positive Reinforcement, endekatan teoritis Psikologis, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Implementasi Positive Reinforcement, Komponen Positive Reinforcement, Menangani Efek Kontrol Kontra, Model Penggunaan Positive Reinforcement, Penjadwalan Positive Reinforcement, Prosedur Pemberian Positive Reinforcement, Psikologi Pendidikan, Tujuan Positive Reinforcement
