1. Pengertian Kreativitas
Kreativitas bisa diartikan dengan kemampuan menciptakan, menanggapi, ini diperlukan dalam setiap penciptaan karya seni, mudah menyesuaikan diri dalam setiap situasi, memiliki kemampuan berpikir secara menyeluruh, kreativitas erat hubungannya dengan fantasi atau daya khayal.1
Kreatif bisa distimulasi dengan menggunakan berbagai cara untuk memecahkan masalah, dan juga dengan memberi output yang bersifat petualangan, bisa diekspresikan melalui cara: menulis kreatif, membuat karya seni.2
Kreativitas siswa didasarkan pada keaslian tingkah laku yang mereka laksanakan dalam banyak cara dan kesempatan dalam menghadapi berbagai macam situasi belajar dan dapat juga didasarkan pada kepekaan mereka terhadap pengertian- pengertian tertentu serta penggunaan dalam hidupnya.
2. Tujuan Kreativitas
- Dengan berkreasi anak dapat mewujudkan dirinya.
- Dengan kemampuan berfikir kreatif dimungkinkan dapat melihat berbagai macam penyelesaian suatu masalah. Mengekspresikan pikiran-pikiran yang berbeda dari orang lain tanpa dibatasi pada hakikatnya akan mampu melahirkan berbagai macam gagasan.
Bersibuk diri secara kreatif akan memberikan kepuasan kepada individu tersebut. Hal ini penting untuk diperhatikan karena tingkat ketercapaian kepuasan seseorang akan mempengaruhi perkembangan sosial emosinya. - Dengan kreativitas memungkinkan meningkatkan kualitas hidupnya.3
3. Fungsi pengembangan kreativitas
- Fungsi pengembangan kreativitas terhadap pengembangan Seni anak.
Melalui pengembangan kreativitas anak memperoleh kesempatan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan berekpresi menurut caranya sendiri. - Fungsi pengembangan kreativitas terhadap kesehatan jiwa. Pengembangan kreativitas mempunyai nilai terapis karena dalam kegiatan berekpresi itu anak dapat menyalurkan perasaan-perasaan yang dapat menyebabkan ketegangan-ketegangan pada dirinya,seperti prasaan sedih, kecewa, khawatir, takut, dll.
- Fungsi mengembangkan kreativitas terhadap perkembangan estetika.
Disamping kegiatan-kegiatan berekpresi yang sifatnya mencipta, anak
dibiasakan dan dilatih untuk menghayati bermacam-macam keindahan seperti alam, lukisan, tarian, musik, dan sebagainya.4
4. Pentingnya kreativitas
- Dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia.
- Kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini kurang mendapat perhatian dalam pendidikan.
- Bersibuk dari secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi dan bagi lingkungan tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
- Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.5
5. Indikator Kreativitas
siswa kreatif antara lain meliputi: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, melit, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, dan bersedia mengambil resiko, serta berani dalam pendirian dan keyakinan,
6. Aspek Kreativitas
Sehubung dengan pengembangan kreativitas siswa, kita perlu meninjau empat aspek dari kreativitas, yaitu pribadi, pendorong, proses (press) dan produk (4P dari kreativitas):
- Aspek Pribadi: Kreativitas adalah ungkapan atau ekspresi dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
- Aspek Pendorong: Bakat kreatif siswa akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan kuat dalam dirinya sendiri (motivasi internal) untuk menghasilakan sesuatu.
- Aspek Proses: pendidik hendaknya dapat meransang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana prasarana yang diperlukan.
- Aspek Produk: kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan, yaitu sejauh mana keduanya mendorong (press) seseorang untuk melibatkan dirinya dalam (kesibukan, kegiatan) kreatif.6
7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas siswa diantaranya yaitu faktor internal dan ekternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak seperti faktor biologis dan fisiologis. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang
berasal dari luar dirinya seperti faktor lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.7
Berdasarkan pendapat di atas dapat diuraikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kreativitas siswa yaitu:
a. Faktor Internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri anak yang dapat mempengaruhi kreativitasnya yaitu:
- Faktor biologis yaitu perkembangan kreativitas anak dipengaruhi oleh gen yang diwarisi oleh kedua orang tuanya. Selain menghasilkan kesamaan fisik, genetik juga dapat menghasilkan ciri-ciri psikologis seperti bakat dan kecerdasan. Bakat dan kecerdasan diyakini dapat mempengaruhi kreativitas anak. Biasanya anak yang berbakat dan memiliki kecerdasan tinggi akan menujukkan kreativitas yang baik dibandingkan anak yang tidak berbakat dan memiliki kecerdasan rendah.
- Faktor fisiologis yaitu kesehatan memiliki pengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Sehat dan aktifnya indera pada anak- anak akan berpengaruh pada perilaku dan suasana hatinya. Hal ini menunjukkan bahwa anak yang sehat akan menunjukkan kreativitas yang lebih baik dan sebaliknya jika anak mengalami kesehatan yang
buruk dan kondisi tidak sehat disebabkan karena penyakit atau kecelakaan dapat menghambatnya perkembangan kreativitasnya.8
b. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitasnya yaitu:
1) Lingkungan keluarga.
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang mempunyai peran penting dalam mendidik anak. Pola asuh yang diterapkan orang tua sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Pola asuh otoriter orang tua yang mengekang kebebasan anak untuk mengembangkan dirinya secara utuh seperti melarang anak bermain, serba membatasi, dan memaksa anak untuk menuruti perintah orang tua justru akan menjadikan anak kurang memiliki inisiatif dan tidak percaya diri sehingga dapat menghambat kreativitasnya. Sebaliknya, jika seorang anak dibiasakan dengan pola asuh yang demokratis dengan suasana keluarga yang terbuka, saling menghargai, mendengarkan pendapat, dan memberikan kesempatan yang luas kepada anak untuk melakukan kegiatan sesuai dengan minatnya maka anak akan tumbuh menjadi sosok yang kreatif, terbuka, penuh inisiatif dan percaya diri.
2) Lingkungan sekolah.
Sekolah merupakan lingkungan pendidikan terpenting setelah di keluarga. Di sinilah pertama kalinya anak mengenal dunia luar dengan ruang lingkup yang lebih besar dari rumahnya. Lingkungan sekolah ini tentunya lebih beragam dan kompleks. Segala sesuatu yang ada di lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kreativitas anak, seperti guru dengan segala potensinya, banyaknya teman sebaya, sistem pembelajaran, serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Di sekolah anak banyak memperoleh kesempatan untuk belajar, bermain, dan berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga proses inilah yang dapat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya kreativitas anak. Proses pendidikan di sekolah tentunya tidak terlepas dari peranan guru, jadi stimulasi yang diberikan guru juga dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas anak. Contohnya, apabila guru menyajikan kegiatan yang menarik dan menyenangkan serta memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan kegiatan sesuai dengan keinginannya, maka pada saat itu anak memiliki peluang untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga dapat memupuk potensi kreatif mereka.
Selain itu, perilaku yang ditampilkan teman sebaya dapat mempengaruhi kreativitas anak, apabila teman sebaya menunjukkan sikap memusuhi akan menghambat kreativitasnya. Dan sebaliknya, apabila teman sebaya menunjukkan sikap bersahabat maka anak akan memperoleh rasa aman dan memulai segala aktivitas dengan perasaan menyenangkan sehingga dapat memicu tumbuhnya kreativitas anak.
Selanjutnya, pembelajaran di sekolah juga memiliki andil dalam menentukan pengembangan kreativitas anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Belajar melalui bermain memberikan wadah dan kesempatan yang luas pada anak untuk bereksplorasi memenuhi rasa keingintahuannya, anak dapat bereksperimen dengan ide-idenya baik menggunakan alat permainan ataupun menggunakan media yang lain untuk menciptakan suatu karya sesuai dengan keinginannya.
Perkembangan kreativitas juga dapat dilihat pada saat anak bermain dengan memanfaatkan atau menggunakan berbagai bahan dan alat permainan. Dengan demikian, tersedianya berbagai sarana bermain juga turut mempengaruhi perkembangan kreativitas anak, terutama sarana bermain yang dapat diubah, dimodifikasi, maupun dibentuk oleh sehingga dapat mengasah pikirannya dalam berkreativitas.
3) Lingkungan masyarakat.
Faktor budaya, kebiasaan, agama, dan keadaan demografi yang ada pada suatu masyarakat diakui atau tidak memiliki pengaruh dalam perkembangan kreativitas anak. Misalnya anak yang tinggal di kota perkembangan kreativitasnya akan berbeda dengan anak yang tinggal di desa.9
Berdasarkan faktor-faktor di atas, ternyata lingkungan merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas pada anak. Anak akan mampu mengembangkan kreativitasnya dengan dukungan atau dorongan dari
lingkungannya. Dalam hal ini lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan sekolah. Melalui stimulasi yang diberikan guru serta penyediaan sarana dan prasarana, memberikan kesempatan pada anak untuk aktif mengembangkan dirinya secara utuh menjadi sosok yang kreatif.
Jadi dalam mengembangkan kreativitas siswa dalam menulis pada majalah dinding, diperlukan proses pembelajaran dan latihan-latihan. Melalui pendidikan dan pelatihan diharapkan pengetahuan dan keterampilan siswa untuk menulis semakin meningkat yang pada akhirnya diharapkan dapat menghasilkan karya tulis yang berkualitas.
Sumber Bacaan
1 Widia Pekerti, dkk, Metode Pengembangan Seni, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), hlm.14
2 Edy Gustian, Semua Anak Jenius, (Jakarta: Puspa Swarna, 2001), hlm. 24
3 Utami Munandar, Mengapa harus kreatif , (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 10
4 Ibid.,Utami Munandar. hlm.15
5 Ibid, Utami Munandar,.hlm. 31
6 Ibid, Utami Munandar,.hlm. 45-46
7 Wiyani, Novan, Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, (Yogjakarta: Gava Media, 2014), hlm. 16
8 Ibid .Wiyani, Novan,.hlm. 17
9 Ibid,.Wiyani, Novan,. hlm. 18-21