Pengertian Pidato
Pidato merupakan wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. Pidato umumnya ditujukan kepada orang atau sekumpulan orang untuk menyatakan selamat, menyambut kedatangan tamu, memperingati hari-hari besar tertentu dan lain sebagainya (Karomani, 2011: 12).
Pidato adalah mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak (Depdikbud, 1990: 681). Pidato adalah teknik pemakaian kata-kata atau bahasa secara efektif yang berarti keterampilan atau kemahiran dalam memilih kata yang dapat mempengaruhi komunikan tersebut (Syam, 2006: 7). Berpidato adalah menyampaikan dan menanamkan pikiran, informasi atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai dan bermaksud meyakinkan pendengarnya (Arsjad, 1988: 53)
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pidato adalah kegiatan berbicara di depan umum untuk menyampaikan suatu hal dalam situasi tertentu. Jadi, dalam pidato ada penyampai pidato sebagai sumber pidato, dan ada juga pendengar atau audience. Penyampai pidato berharap agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh pendengarnya.
Tujuan Pidato
Ada beberapa tujuan pidato, yaitu.
- Informatif / instruktif Pidato informatif bertujuan untuk menyampaikan informasi/keterangan kepada pendengar.
- Persuasif Pidato persuasif bertujuan ingin mengajak, membujuk para pendengarnya. Contohnya adalah pidato kampanye dan pidato keagamaan.
- Argumentatif Pidato argumentatif bertujuan ingin meyakinkan pendengar.
- Deskriptif Pidato deskriptif bertujuan ingin melukiskan, menggambarkan suatu keadaan.
- Rekreatif Pidato rekreatif bertujuan untuk menghibur pendengar. Biasanya terdapat dalam pesta-pesta. bertujuan untuk menghibur pendengar.
Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan yang positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik/umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pidato antara lain memberikan informasi, mempengaruhi pendengar dan menghibur
Faktor-Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Berpidato
Dikatakan oleh Maidar (dalam Karomani, 2011: 12), agar dapat berpidato dengan baik ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut,
- harus mempunyai tekad dan keyakinan bahwa pembicara mampu meyakinkan orang lain. Dengan memiliki tekad ini maka akan tumbuh keberanian dan sikap percaya diri sehingga pembicara tidak akan ragu-ragu mengucapkan pidatonya;
- harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga pembicara dapat menguasai materi dengan baik;
- harus memiliki perbendaharaan kata yang cukup, sehingga pembicara mampu mengungkapkan pidato dengan lancar dan meyakinkan;
- harus melakukan kebiasaan atau latihan yang intensif. Persiapan yang matang dan latihan yang intensif akan sangat membantu kelancaran berpidato;
Fungsi Pidato
Beberapa fungsi pidato sebagaimana dikemukakan Rosalina (dalam Karomani, 2011: 13),
- menyampaikan informasi kepada pendengarnya;
- mendidik;
- mempengaruhi pendengar;
- menghibur khalayak;
- membuat propaganda;
- menyambung lidah orang lain.
Tata Krama Berpidato
Sebagaimana dikatakan Maidar (dalam Karomani, 2011: 13-14), ada beberapa tata krama yang harus kita perhatikan ketika kita berpidato, hal tersebut antara lain,
- jika berpidato di hadapan orang-orang terkemuka hendaknya mempersiapkan diri sesempurna mungkin, dan tidak perlu merasa rendah diri;
- jika berpidato di depan wanita atau sebagian besar wanita dan yang berpidato pria, perhatikanlah kata-kata yang digunakan jangan sampai menyinggung perasaannya;
- jika berpidato di hadapan sesama golongan harus terbuka, terus terang dan santai namun jangan melupakan tata karma;
- jika yang mendengarkan pidato itu pelajar atau mahasiswa, kita harus mampu meyakinkan mereka dengan argumen-argumen yang logis;
- jika berpidato di depan suatu pemeluk agama tertentu kita harus menjaga jangan sampai ada satu ucapan pun yang menyinggung martabat agama tersebut;
- jika yang mendengarkan itu masyarakat desa maka gunakanlah kata atau kalimat yang sederhana sehingga pidato kita mudah dimengerti mereka.
- jika berpidato dihadapan umum hendaknya memperhatikan hal-hal berikut;
- berpakaianlah dengan rapi dan bersih, tetapi tidak bergaya pamer dengan memakai perhiasan atau pakaian yang berlebihan;
- gunakanlah kata-kata yang sopan, dan jangan memperlihatkan keangkuhan, kesombongan, atau kepongahan tetapi mesti rendah hati;
- jika pidato itu panjang, agar tidak membosankan pendengar, sesekali hendaknya diselingi humor yang segar dan sopan;
Posisi Berpidato
Komunikasi apapun akan lebih efektif, jika si pembicara dapat dilihat oleh pendengarnya. Daya tarik tentu akan kurang jika yang berpidato tidak dapat dilihat oleh pendengarnya. Itu sebabnya, usahakanlah berpidato dengan posisi yang baik. Usahakanlah berdiri pada tempat tertentu, sehingga dapat dilihat oleh seluruh pendengar. Usahakanlah berdiri jangan duduk. Berpidato sambil duduk hanya bisa dibenarkan jika ada alasan tertentu (Karomani, 2011: 15).
Ada juga pidato yang diucapkan dihadapan pendengar yang sama-sama duduk di lantai, misalnya pertemuan-pertemuan di desa atau di tempat-tempat pertemuan di rumah. Dalam hal ini yang berpidato tetap harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi, dapat mengambil posisi yang wajar terlihat oleh seluruh peserta yang ada (Karomani, 2011: 15).
Sistematika Berpidato
Sebagaimana dikatakan oleh Maidar (dalam Karomani, 2011: 16), secara garis besar sistematika berpidato adalah sebagai berikut,
- salam pembuka dan sapaan terhadap hadirin;
- pendahuluan yang biasa berbentuk ucapan terima kasih, atau ungkapan kegembiraan atau rasa syukur dan pujian;
- menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan gaya bahasa yang menarik;
- simpulan, yang berisi ringkasan dari uraian yang telah disampaikan;
- harapan yang berisi anjuran saran kepada pendengar;
- salam penutup.
Persiapan Berpidato
Untuk berbicara dengan baik, kita mesti memperhatikan unsur kebahasaan maupun unsur nonkebahasaan seperti: ketenangan sikap, keberanian, gerak-gerik mimik yang wajar dan lain-lain (Karomani, 2011: 16).
Ada tujuh langkah yang mesti dipersiapkan bila kita ingin berpidato. Ketujuh langkah itu adalah sebagai berikut,
- Menentukan topik.
- Menganalisis pendengar dan situasi.
- Memilih dan menyempitkan topik.
- Mengumpulkan bahan.
- Membuat garis besar.
- Menguraikan secara mendetail.
- Melatih vokalisasi (Karomani, 2011: 16).
Menyusun Teks Pidato
Sebelum melakukan kegiatan berpidato tersebut, sebagai pembawa pidato pemula, biasanya harus terlebih dahulu mempersiapkan dan menulis teks pidato yang akan disampaikan. Hal ini dilakukan agar pesan yang ingin disampaikan di dalam pidato tersebut dapat diterima pendengar dengan baik. Menulis teks pidato memerlukan keterampilan tersendiri, sebab teks pidato tersebut nantinya akan dibaca dan didengar oleh orang lain sehingga penyusunannya harus benar-benar mengikuti kaidah penulisan yang berlaku. Menulis teks pidato merupakan suatu kegiatan yang bersifat produktif yang membutuhkan suatu keuletan dan keterampilan yang memadai, agar teks pidato yang ditulis atau disusun menjadi baik.
Menulis teks pidato tidaklah terlalu berbeda dengan menulis teks karangan lainya, sebelum menulis teks pidato terlebih dahulu harus dibuat kerangka tulisan, selain itu juga penulis harus mengetahui bagian dan fungsi bagian-bagian tersebut dalam kesatuan teks yang terdapat pada sebuah pidato.
Dalam menulis teks pidato tentunya ada hal-hal yang harus diperhatikan seperti berikut.
- Pendahuluan, yang mengantar alam pemikiran pendengar kepada apa yang akan dibicarakan, disampaikan.
- Isi pidato, berupa hal-hal penting yang akan disampaikan kepada pendengar.
- Penutup, biasanya berisi penegasan atau penekanan akan hal-hal yang disampaikan pembicara.
- Saran-saran atau imbauan yang perlu diperhatikan pendengar.
Kemampuan menyusun naskah pidato adalah kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam menggunakan unsur-unsur kesatuan bahasa untuk menyampaikan ide atau gagasanya secara tertulis untuk disampaikan secara lisan sehingga apa yang disampaikan dapat dipahami pendengarnya.
Pidato yang efektif selalu memerlukan persiapan yang baik. Untuk itu, seorang penyusun teks pidato haruslah memahami cara-cara atau teknik-teknik dalam menyusun teks pidato. Menyusun teks pidato memerlukan teknik-teknik tertentu karena selain menuliskan ide-ide penulis juga harus memerhatikan dan mempertimbangkan calon pendengarnya. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui penulis.
Kegiatan berpidato agar berlangsung dengan baik diperlukan persiapan dan latihan secara teratur. Bagi orang yang sudah bisa berpidato di hadapan massa, memersiapkan pidato dan melakukan latihan mungkin tidak diperlukan lagi, namun bagi baru atau belum pernah berpidato hal ini sangat diperlukan. Anwar (1995: 36) mengemukakan bahwa ada tiga langkah persiapan pidato, yaitu (a) persiapan fisik, (b) persiapan mental, (c) persiapan materi yang dapat menunjang keberhasilan berpidato seseorang.
Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan yang luas sangat dibutuhkan agar calon pembawa pidato lebih memiliki keyakinan untuk meyakinkan pendengarnya tentang apa yang dikemukakan dalam pidatonya, sekaligus memberikan pengetahuan atau menanamkan nilai-nilai yang diharapkan dapat bermanfaat.
Fakta-fakta, ilustrasi, pokok-pokok yang konkret dapat menambah penguatan bagi pembawa pidato yang tentunya akan berdampak secara positif bagi pendengarnya. Untuk pidato perpisahan sekolah, fakta-fakta ilustrasi, cerita atau pokok-pokok konkrit yang berhubungan dengan pendengarnya adalah harus berkaitan dengan kenyataan sebagai akibat malas belajar, menganggur, pemalas perlu disampaikan. Tindakan-tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh pelaku kejahatan sebagai akibat tidak mau bersekolah atau tidak bersekolah perlu dikemukakan, karena para pendengar yang umumnya terdiri dari siswa-siswa.
Di sisi lain, ungkapan terima kasih serta permohonan maaf kepada para guru yang telah membimbing para siswa selama ini, harus disampaikan. Permohonan doa serta restu para orangtua dan guru-guru yang telah banyak mengarahkan dan mendidik para siswa, yang terkadang menyita pengorbanan yang besar dari guru-guru.
Ini yang perlu dipersiapkan oleh calon membawa pidato sebagai sambutan dalam acara perpisahan sekolah. Hal ini harus dipaparkan dalam teks yang secara umum terdiri dari pendahuluan, isi dan, penutup. Menurut Dawud dkk (2004: 68) teks pidato harus jelas gagasannya, organisasi isinya, tata bahasa, kosakata serta penggunaan ejaannya harus sesuai dengan pedoman EYD. Berikut dijelaskan secara singkat unsur-unsur tersebut.
- Isi Gagasan Isi gagasan yang dimaksud dalam tulisan ini, adalah gagasan atau ide siswa yang berkenaan dengan tema pidato, yakni perpisahan sekolah. Gagasan ini harus relevan dengan suasana atau tema pidato yang ditentukan guru.
- Organisasi Isi Pengorganisasian ide atau gagasan adalah penempatan dalam teks pidato akan bagian-bagian teks pidato yang dimulai dari pendahuluan, isi, dan penutup. Pendahuluan selayaknya diletakkan diawal teks pidato yang disusun, kemudian isi, dan terakhir adalah penutup.
- Tata Bahasa Tata bahasa dalam teks pidato dimaksudkan sebagai susunan kata-kata menjadi kalimat, paragraf, dan teks secara utuh. Susunan bahasa harus jelas dan logis, sehingga makna dalam teks pidato dapat ditangkap dengan mudah.
- Kosa Kata Kata-kata yang menyambung kalimat harus selaras dengan maksud penulis. Kosa kata yang digunakan juga harus tepat, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dari pendengar. Kosa kata harus baku dan tidak menggunakan kosa kata dari daerah masing-masing siswa, tetapi harus menggunakan bahasa Indonesia.
- Ejaan yang Disempurnakan Teks pidato yang ditulis siswa harus memperhatikan unsur EYD, sehingga tidak terjadi kesalahan, yang mengakibatkan pemaknaan terhadap teks menjadi rancu.
Sumber Bacaan :
Karomani.2011. Keterampilan Berbicara. Ciputat Tangsel: Matabaca Publishing