Tantangan dan Peluang Revolusi Industri 4.0

Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia (Tjandrawinata, 2016).

Industri 4.0 sebagai fase revolusi teknologi mengubah cara beraktifitas manusia dalam skala, ruang lingkup, kompleksitas, dan transformasi dari pengalaman hidup sebelumnya. Manusia bahkan akan hidup dalam ketidakpastian (uncertainty) global, oleh karena itu manusia harus memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan yang berubah sangat cepat. Tiap negara harus merespon perubahan tersebut secara terintegrasi dan komprehensif. Respon tersebut dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan politik global, mulai dari sektor publik, swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil sehingga tantangan industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang.

Wolter mengidentifikasi tantangan industri 4.0 sebagai berikut; 1) masalah keamanan teknologi informasi; 2) keandalan dan stabilitas mesin produksi; 3) kurangnya keterampilan yang memadai; 4) keengganan untuk berubah oleh para pemangku kepentingan; dan 5) hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi.

(Sung, 2017). Lebih spesifik, Hecklau et al (2016) menjelaskan tantangan industri 4.0 sebagai berikut.

Tabel 1. Tantangan Industri 4.0 (Heckeu et al, 2016)

Tantangan ekonomi 1. Globalisasi yang terus berlanjut:

a. Keterampilan antarbudaya

b. Kemampuan berbahasa

c. Fleksibilitas waktu

d. Keterampilan jaringan

e. Pemahaman proses

 

2. Meningkatnya kebutuhan akan inovasi:

a. Pemikiran wirausaha

b. Kreativitas,

c. Pemecahan masalah

d. Bekerja di bawah tekanan

e. Pengetahuan mutakhir

f. Keterampilan teknis

g. Keterampilan penelitian

h. Pemahaman proses

 

3. Permintaan untuk orientasi layanan yang lebih tinggi:

a. Pemecahan konflik

b. Kemampuan komunikasi

c. Kemampuan berkompromi

d. Keterampilan berjejaring

 

4. Tumbuh kebutuhan untuk kerja sama dan kolaboratif:

a. Mampu berkompromi dan kooperatif

b. Kemampuan bekerja dalam tim

c. Kemampuan komunikasi

d. Keterampilan berjejaring

Tantangan Sosial 1. Perubahan demografi dan nilai sosial:

a. Kemampuan mentransfer pengetahuan

b. Penerimaan rotasi tugas kerja dan perubahan pekerjaan yang terkait (toleransi ambiguitas)

c. Fleksibilitas waktu dan tempat

d. Keterampilan memimpin

 

2. Peningkatan kerja virtual:

a. Fleksibilitas waktu dan tempat

b. Keterampilan teknologi

c. Keterampilan media

d. Pemahaman keamanan TI

 

3. Pertumbuhan kompleksitas proses:

a. Keterampilan teknis

b. Pemahaman proses

c. Motivasi belajar

d. Toleransi ambiguitas

e. Pengambilan keputusan

f. Penyelesaian masalah

g. Keterampilan analisis

Tantangan Teknis 1. Perkembangan teknologi dan penggunaan data eksponensial:

a. Keterampilan teknis

b. Kemampuan analisis

c. Efisiensi dalam bekerja dengan data

d. Keterampilan koding

e. Kemampuan memahami keamanan TI

f. Kepatuhan

 

2. Menumbuhkan kerja kolaboratif:

a. Mampu bekerja dalam tim

b. Kemampuan komunikasi virtual

c. Keterampilan media

d. Pemahaman keamanan TI

e. Kemampuan untuk bersikap kooperatif

 

Tantangan Lingkungan Perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya:

a. Pola pikir berkelanjutan

b. Motivasi menjaga lingkungan

c. Kreativitas untuk mengembangkan solusi keberlanjutan baru

Tantangan Politik dan Aturan 1. Standarisasi:

a. Keterampilan teknis

b. Keterampilan koding

c. Pemahaman proses

 

2. Keamanan data dan privasi:

a. Pemahaman keamanan teknologi informasi

b. Kepatuhan

 

Irianto (2017) menyederhanakan tantangan industri 4.0 yaitu; (1) kesiapan industri; (2) tenaga kerja terpercaya; (3) kemudahan pengaturan sosial budaya; dan (4) diversifikasi dan penciptaan lapangan kerja dan peluang industri 4.0 yaitu; (1) inovasi ekosistem; (2) basis industri yang kompetitif; (3) investasi pada teknologi; dan (4) integrasi Usaha Kecil Menengah (UKM) dan kewirausahaan.

Pemetaan tantangan dan peluang industri 4.0 untuk mencegah berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat, salah satunya adalah permasalahan pengangguran. Work Employment and Social Outlook Trend 2017 memprediksi jumlah orang yang menganggur secara global pada 2018 diperkirakan akan mencapai angka 204 juta jiwa dengan kenaikan tambahan 2,7 juta. Hampir sama dengan kondisi yang dialami, negara barat, Indonesia juga diprediksi mengalami hal yang sama. Pengangguran juga masih menjadi tantangan bahkan cenderung menjadi ancaman. Tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2017 sebesar 5,33% atau 7,01 juta jiwa dari total 131,55 juta orang angkatan kerja (Sumber: BPS 2017).

Data BPS 2017 juga menunjukkan, jumlah pengangguran yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menduduki peringkat teratas yaitu sebesar 9,27%. Selanjutnya adalah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,03%, Diploma III (D3) sebesar 6,35%, dan universitas 4,98%. Diidentifikasi, penyebab tingginya kontribusi pendidikan kejuruan terhadap jumlah pengangguran di Indonesia salah satunya disebabkan oleh rendahnya keahlian khusus dan soft skill yang dimiliki.

Permasalahan pengangguran dan daya saing sumber daya manusia menjadi tantangan yang nyata bagi Indonesia. Tantangan yang dihadapi Indonesia juga ditambah oleh tuntutan perusahaan dan industri. Bank Dunia (2017) melansir bahwa pasar kerja membutuhkan multi-skills lulusan yang ditempa oleh satuan dan sistem pendidikan, baik pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi.

Indonesia juga diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030-2040, yaitu penduduk dengan usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk non produktif. Jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 64% dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 297 juta jiwa. Oleh sebab itu, banyaknya penduduk dengan usia produktif harus diikuti oleh peningkatan kualitas, baik dari sisi pendidikan, keterampilan, dan kemampuan bersaing di pasar tenaga kerja.

Tags: , , ,

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *