Teori Pola Konsumsi (Pola Makan)

pola konsumsi makanan

1. Pengertian pola konsumsi

Pola makan sehat adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu, seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Pola makan sehari – hari merupakan pola makan seseorang yang berhubungan dengan kebiasaan makan sehari – hari (Adriani & Wiryatmadi, 2012).

Biasanya pola ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kebiasaan, kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi, lingkungan alam dan sebagainya. Semua faktor tersebut bersatu membentuk pola yang kompak disebut pola konsumsi. Pola konsumsi adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi per orang per hari yang umum dikonsumsi atau dimakan penduduk pada jangka waktu tertentu (Sandjaja, 2009).

2. Metode pengukuran konsumsi

Berdasarkan sasaran pengamatan atau pengguna, metode pengukuran konsumsi makanan dibedakan menjadi tiga, yakni tingkat nasional, tingkat rumah tangga, dan tingkat individu atau perorangan. Pengukuran konsumsi pada tingkat individu atau perorangan meliputi beberapa metode berikut:

a. Metode food recall 24 jam

Metode recall 24 jam adalah salah satu metode survey konsumsi yang menggali atau menanyakan apa saja yang dimakan dan diminum responden 24 jam yang berlalu baik yang berasal dari dalam rumah maupun di luar rumah. Metode ini paling sering digunakan dalam suatu penelitian karena cukup akurat, cepat pelaksanaannya, murah, mudah, dan tidak memerlukan peralatan yang mahal (Koesharto & Supariasa, 2014).

b. Metode food record

Metode Food Record biasanya berlangsung selama satu minggu atau 7 (tujuh) hari. Selama periode waktu tersebut, semua pangan yang dikonsumsi pada setiap waktu makan diukur dengan cara penimbangan maupun dengan menggunakan URT. Deskripsi lengkap mengenai semua jenis pangan dicatat baik mengenai merk maupun cara penyiapannya (cara memasak/mengolah makanan). Jumlah anggota keluarga dan tamu yang makan pada setiap waktu makan dicatat lengkap dengan umur dan jenis kelaminnya (Koesharto & Supariasa, 2014).

c. Penimbangan makanan (Food Weighing)

Metode penimbangan makanan adalah salah satu metode survey konsumsi kuantitatif. Pada dasarnya metode ini adalah responden atau petugas diminta menimbang dan mencatat makanan dan minuman yang dikonsumsi selama satu hari, termasuk cara memasak, merk makanan dan komposisi (bila memungkinkan). Penggunaan metode ini dilakukan di rumah tangga atau institusi khusus, apabila tersedia timbangan makanan. Umumnya pedesaan di Indonesia jarang mempunyai timbangan makanan. Oleh karena itu petugas survey atau pengumpul data harus menyediakan timbangan (Koesharto & Supariasa, 2014).

d. Metode riwayat makan (Dietary History Method)

Riwayat makan (Dietary History) digunakan untuk menggunakan asupan gizi individu dalam kurun waktu tertentu seperti beberapa minggu, beberapa bulan atau beberapa tahun yang lalu. Pada awalnya oleh Burke, metode ini melibatkan 4 (empat) langkah yaitu,

1) Pertama, mengumpulkan informasi yang bersifat umum tentang kesehatan (helath habits).

2) Kedua, pertanyaan tentang pola makan.

3) Ketiga, mengecek data yang dikumpulkan pada langkah kedua.

4) Keempat, melengkapi data responden tentang catatan makan selama 3 hari.

e. Metode frekuensi makanan (Food Frequency)

Penggunaan metode frekuensi pangan bertujuan untuk memperoleh data konsumsi pangan secara kualitatif dan informasi deskriptif tentang pola konsumsi. Metode ini umumnya tidak digunakan untuk memperoleh data kuantitatif pangan atau asupan konsumsi zat gizi. Namun metode frekuensi pangan dapat juga digunakan untuk menilai konsumsi pangan secara kuantitatif. Dengan metode ini, kita dapat menilai frekuensi penggunaan pangan atau kelompok pangan tertentu (misalnya: sumber lemak, sumber protein, sumber vitamin A, dsb) selama kurun waktu yang spesifik (misalnya: per hari, minggu, bulan, tahun) dan sekaligus memperkirakan konsumsi zat gizinya. Kuesioner mempunyai dua komponen utama yaitu daftar pangan dan frekuensi penggunaan pangan. SQ-FFQ merupakan metode frekuensi makanan yang telah dimodifikasi dengan memperkirakan atau estimasi URT dalam gram. Pada FFQ semi kuantitatif skor zat gizi yang terdapat di setiap subjek dihitung dengan cara mengalikan frekuensi setiap jenis makanan yang dikonsumsi yang diperoleh dari data komposisi makanan yang tepat (Koesharto & Supariasa, 2014).

f. Metode food account dan food inventory

1) Food accont method

Metode ini bertujuan untuk mencatat semua pangan yang ada di rumah tangga, yaitu yang berasal dari pembelian, pemberian atau yang diproduksi sendiri. Jumlah masing – masing pangan dicatat dalam bentuk satuan dan URT. Dicatat pula mengenai merk dagang dan harga dari setiap jenis pangan (Koesharto & Supariasa, 2014).

2) Inventaris makanan (Food Inventory)

Tujuan dari metode inventaris adalah mencatat semua perolehan dan perubahan pangan yang ada di rumah tangga. Lamanya survey biasanya selama 7 (tujuh) hari. Pada hari pertama survey lakukan inventarisasi terhadap semua jenis pangan yang ada di rumah tangga dengan cara penimbangan. Semua jenis pangan yang ada pada hari pertama ini dianggap sebagai stok pangan di tingkat rumah tangga. Kemudian pada hari – hari berikutnya catat perubahan – perubahan yang terjadi pada pangan yang ada, baik yang berasal dari pembelian, pemberian maupun yang diproduksi sendiri. Catat pula semua pangan yang dibuang baik berupa sisa, maupun yang digunakan untuk makanan ternak, sehingga dapat diperoleh jumlah dari setiap jenis pangan yang benar – benar dikonsumsi oleh anggota keluarga (Koesharto & Supariasa, 2014).

Banyak yang baca