Pengertian, Aspek-Aspek dan Ciri Umum Kematangan Emosi

Emosi berasal dari bahwa Perancis dan Latin yang berarti mengganggu atau mengacaukan (Manz, 2007) dan menurut The New World Dictionary mendefenisikan emosi sebagai ‘setiap perasaan tertentu; setiap ragam reaksi-reaksi yang komplek baik dengan perwujudan yang bersifat fisik maupun mental’. Kata emosi adalah kata serapan dari bahasa inggris, yakni ‘emotion’. Dalam kamus, kata ‘emotion’ digunakan untuk menggambarkan perasaan yang kuat akan sesuatu dan perasaan yang sangat menyenangkan atau sangat mengganggu. Misalnya merasakan perasaan yang kuat dan menyenangkan saat bersama seseremaja, mungkin hal ini dianganggap bahwa diri sedang dalam keadaan emosi. Jenisnya, emosi cinta.

Pernyataan lainnya menyatakan bahwa emosi dipicu oleh interpretasi seseremaja terhadap suatu kejadian, adanya reaksi fisiologis yang kuat, ekspresi emosionalnya berdasarkan pada mekanisme genetika, merupakan informasi dari satu remaja ke yang lainnya, dan membantu seseremaja beradaptasi terhadap perubahan situasi lingkungan. (Manz, 2007).

Manusia dalam kehidupannya selalu menghadapi masalah-masalah. Bagi individu yang tidak stabil akan dikuasai oleh emosinya, sehingga dalam menyelesaikan masalahnya sering mengalami kegagalan. Tetapi bagi individu yang stabil dan dapat mengendalikan emosinya akan dapat menyelesaikan masalahnya dengan tepat dan wajar. Remaja yang memiliki kematangan emosi adalah remaja yang memiliki kesanggupan untuk menghadapi tekanan hidup baik yang ringan maupun yang berat (Meichati, 1983: 8). Kematangan emosi inilah yang menentukan berhasil tidaknya seseremaja menguasai keseimbangannya. Kemampuan seseremaja dalam menguasai emosinya ini nampak dalam sikapnya menghadapi situasi-situasi tertentu, yang bermacam- macam coraknya. Umumnya remaja yang sudah matang emosinya selalu menunjukkan sikap yang positif dalam menghadapi kehidupan ini.

Pada masa remaja umumnya perkembangan emosi akan mengarah pada terbentuknya suatu kematangan emosi. Kematangan emosi akan tercapai pada usia dewasa, akan tetapi secara intensif mulai terbentuk sejak masa bayi, kanak- kanak dan remaja. Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada sejak bayi (Baldwin dikutip Hurlock, 1988: 134) Selanjutnya, pencapaian kematangan emosi seseremaja ditandai dengan adanya kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri. Seseremaja semakin matang emosinya, maka ia akan semakin mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaan-keadaannya yang menimbulkan tekanan pada emosinya.

Seremaja siswa remaja dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada masa remaja tidak meledakkan emosinya dihadapan remaja lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat pula untuk mengungkapkan emosinya dengan cara- cara yang lebih dapat diterima. Remaja yang telah mencapai kematangan emosi akan mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya.

Hurlock (1990: 229) mengatakan bahwa keseimbangan emosi dapat diperoleh dengan 2 cara yaitu: 1) mengendalikan lingkungan dengan tujuan, supaya emosi yang tidak menyenangkan cepat diimbangi dengan emosi yang menyenangkan, 2) adalah dengan membantu anak mengembangkan toleransi terhadap emosinya. Selanjutnya Hurlock (1990: 213) mempertegas bahwa remaja yang emosinya telah matang dapat memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke emosi atau suasana hati yang lain, seperti periode sebelumnya.

Melihat dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan individu untuk menguasai emosinya, sehingga dapat memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi ke emosi yang lain dan tidak meledakkan emosinya dihadapan remaja lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima serta mampu menilai situasi secara kritis sebelum bereaksi secara emosional.

Salovey dan Mayer mengungkapkan ada lima wilayah utama dalam kematangan emosi, yaitu:

a. Kemampuan Mengenali Emosi Diri

Kemampuan ini merupakan dasar kematangan emosi, yaitu: kemampuan seseorang dalam menangani perasaan sendiri ketika perasaannya itu muncul. Seseorang mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. Dalam Pelaksanaan Ibadah Haji seringkali dijumpai, apabila pemahaman tentang kemabruhan haji dipahami oleh jamaah secara baik dan benar maka mereka umumnya dapat mengendalikan emosi, sebaliknya bagi jamaah yang kurang memahami kemabruran haji tersebut mereka cenderung muncul emosi yang tidak terkendali.

b. Kemampuan Mengelola Emosi

Kemampuan ini adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak melampaui batas yang wajar. Orang yang tidak mampu mengelola emosinya akan terus mengalami kesedihan dan menyesali kegagalannya, sedangkan mereka yang mampu mengelola emosinya akan segera bangkit dari kegagalan yang menimpanya. Agar mampu mengontrol emosi dan menjaga agar tindakan yang diambil tidak didasarkan pada emosi semata, orang harus mengerti apa yang diharapkan dari dirinya dan mengerti bahwa setiap tindakan akan membawa konsekuensi baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

c. Memotivasi Diri

Memotivasi diri merupakan kemampuan untuk memberi semangat pada diri sendiri agar dapat melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam kemampuan ini terkandung unsur harapan, rasa percaya diri dan optimisme yang tinggi, sehingga seseorang memiliki semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Optimisme adalah kebiasaan berpikir positif dan kecenderungan untuk melihat sisi cerah suatu situasi. Orang yang optimis yakin bahwa sesuatu yang menggembirakan akan terjadi secara permanen dalam situasi apapun. Bila sesuatu yang buruk terjadi, orang optimis cenderung melihatnya sebagai hal yang temporer dan spesifik serta mau menerima penyebabnya secara realistis. Sebaliknya orang pesimis justru cenderung menyalahkan dirinya atas kejadian buruk yang terjadi. Perkembangan kemampuan memotivasi diri ini juga dimotori oleh kemampuan memecahkan masalah. Bila diberi kesempatan dan dukungan, seseorang akan mampu melihat permasalahan dari berbagai sisi dan menyelesaikan masalahnya. Keberhasilan dalam memecahkan masalah ini akan mengembangkan kemampuan memotivasi dirinya.

d. Kemampuan untuk Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain sering disebut sebagai kemampuan berempati atau kemampuan menangkap perasaan non verbal dari orang lain seperti nada bicara, gerak tubuh, ekspresi wajah. Empati menurut Innes adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain untuk mengetahui bukan hanya pikirannya, melainkan juga perasaan orang tersebut. .Kemampuan berempati ini merupakan kemampuan yang amat penting dalam membangun kehidupan sosial, karena dengan kemampuan empati yang tinggi, seseorang akan lebih mampu menangkap sinyal-sinyal emosi dalam pergaulan sosial. Studi yang dilakukan Rosenthal menunjukkan bahwa orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal akan lebih mampu menyesuaikan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah bergaul, dan lebih peka.

e. Kemampuan Membina Hubungan

Kemampuan membina hubungan adalah kemampuan untuk mengelola emosi ornag lain sehingga tercipta ketrampilan sosial yang tinggi dan memperluas pergaulan seseorang. Tidak dimilikinya kemampuan ini menyebabkan orang yang paling cerdas sekalipun dapat gagal membina hubungan karena penampilannya angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan. Kemampuan ini memungkinkan seseorang membentuk hubungan, menggerakkan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan serta membuat orang lain merasa nyaman.

Kemampuan membina hubungan ini dilandasi oleh kemampuan mengendalikan emosi orang lain. Orang yang mampu membina hubungan dengan orang lain akan lebih memilih menjadi pendengar yang baik daripada pembicara yang pandai pada saat terjadi komunikasi emosional. Pendengar yang baik akan tampak sabar dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan emosional orang yang sedang didengar keluhannya.

Salah satu ciri yang mendasari perkembangan kemampuan membina hubungan adalah ketrampilan menikmati humor. Paul Mc Ghee menegaskan bahwa humor adalah unsur penting dalam mengembangkan kompetensi sosial seseorang.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki rasa humor tinggi biasanya lebih populer di kalangan teman sebayanya, Sebaliknya seseorang yang kurang punya rasa humor biasanya kurang disukai oleh teman-temannya. Reuven Bar-On menjabarkan kematangan emosi ke dalam lima gugus umum, yaitu:

  1. Ketrampilan intra pribadi, yaitu mencakup kemampuan menyadari diri, memahami diri dan mengungkapkan perasaan atau gagasan.
  2. Ketrampilan antar pribadi, mancakup kemampuan menyadari dan memahami perasaan orang lain, peduli terhadap orang lain dan menjalin hubungan dari hati ke hati yang akrab.
  3. Adaptabilitas, yaitu kemampuan menguji perasaan diri, kemampuan mengukur situasi sesaat secara teliti, dengan luwes mengubah perasaan dan pikiran diri dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.
  4. Strategi pengelolaan stress, meliputi kemampuan mengatasi stress dan mengendalikan luapan emosi.
  5. Faktor-faktor yang terkait dengan motivasi dan suasana hati, yaitu kemampuan bersikap optimis, menikmati diri sendiri, menikmati kebersamaan dengan orang lain, dan merasakan serta mengekspresikan kebahagiaan.

Goleman mengemukakan bahwa ada lima dasar kecakapan emosi dan sosial yang bermanfaat dalam dunia kerja, yaitu :

a. Kesadaran Diri

Kemampuan ini adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang ia rasakan pada suatu saat dan menggunakannya untuk memandu dalam pengambilan keputusan, memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri serta memiki kepercayaan diri yang kuat.

b. Pengaturan Diri

Pengaturan diri merupakan kemampuan seseorang dalam menangani emosinya sendiri sehingga berdampak positif pada pelaksanaan tugas, memiliki kepekaan terhadap kata hati, sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran dan mampu pulih kembali dari tekanan emosi.

c. Motivasi

Motivasi adalah menggunakan hasrat yang dimiliki untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif serta mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.

d. Empati

Empati merupakan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif orang lain dan menumbuhkan hubungan saling percaya serta mampu menyelaraskan diri dnegan berbagai tipe individu.

e. Ketrampilan Sosial

Ketrampilan Sosial merupakan kemampuan untuk menangani emosi dengan baik ketika berhubungan sosial dengan orang lain, mampu membaca situasi dan jaringan sosial dengan cermat, berinteraksi dengan lancar, menggunakan ketrampilan ini untuk mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan dan bekerjasama dalam tim.

Berdasarkan uraian di atas tentang ketrampilan sosial, maka dalam penelitian ini penulis lebih mengacu pada aspek yang dikemukakan oleh Salovey dan Mayer yaitu: kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain.

Adapun ciri umum kematangan emosi, meliputi :

a. Analisis Etis

Seseorang yang memiliki kematangan emosi biasanya selalu memandang realitas berdasarkan nilai etis. Seseorang yang telah memiliki kematangan emosi tidak akan berkata atau melakukan perbuatan tanpa memikirkan terlebih dahulu etis tidaknya perkataan atau perbuatan tersebut. Sesorang yang telah memiliki kematangan emosi akan selalu melihat apakah perbuatan, tindakan, pikiran itu baik atau buruk. Mereka hidup berdasarkan nilai-nilai moral yang berlaku dalam lingkungan, adat, dan agama mereka. Kematangan emosi ini tentu diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, mulai dari tingkat keluarga, sekolah, dan masyarakat yang lebih luas.

Etika memang berbeda dari satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Namun, perbedaan tersebut tidak menghancurkan kematangan emosi seseorang. Misalnya, ketika ia berkunjung ke suatu tempat yang berbeda budaya dan agama dengan dirinya, ia akan mempertimbangkan apakah tindakannya akan mengganggu orang lain, atau apakah tindakannya bertentangan dengan etika yang mereka anut. Pendidikan emosi akan efektif ketika dilakukan secara alamiah dalam sebuah lingkungan. Orang yang hidup jauh dari tempat asal mereka biasanya memiliki kemampuan analisis etis dalam mematangkan emosi mereka.

b. Kendali Diri

Ciri kematangan emosi tahap ini jelas lebih sulit dari analisis etis. Mereka yang mampu mengendalikan diri adalah mereka yang emosinya tidak mudah meledak-ledak. Kemampuan mengendalikan diri ini berkaitan erat dengan rendah hati. Semakin mampu mengedalikan diri, semakin ia memposisikan dirinya sebagai individu yang sederhana.

Pengendalian diri adalah suatu hal yang sulit karena terjadi perang dalam diri manusia. Ia mampu berbuat sesuatu, namun tidak melaksanakannya. Contoh ia memiliki uang namun tidak bersikap boros. Ia memiliki peluang menjadi pemimpin. Namun ia menyerahkannya kepada orang main. Ia bisa membeli rumah mewah, namun ia tidak melakukannya.

Kemampuan mengendalikan diri begitu sulit karena ia harus menafikan suatu potensi yang kita miliki. Sesorang yang mampu mengendalikan dirinya biasanya selalu hidup dalam konsisi secukupnya. Orang yang mampu mengendalikan diri ini sudah memiliki kematangan emosi yang jauh lebih baik. Namun kendali diri bukan berarti tidak boleh berkembang dan memiliki sesuatu yang kita inginkan, tetapi kendali diri lebih sebagai rem untuk memiliki sesuatu lebih dari kemampuan diri dan lingkungan kita.

c. Citra diri

Ciri seseorang berikutnya yang memiliki kematangan emosi adalah memiliki citra diri. Citra diri adalah cara kita memandang diri kita, baik itu yang dibentuk orang lain maupun yang di bentuk oleh diri. Ada yang bersifat positif maupun negatif.

Citra diri positif sesorang membuat dirinya berharga dimata orang lain. Contohnya, antara lain citra diri kejujuran, ketegasan, wibawa, dan sikap tanpa kompromi dengan ketidakadilan. Sementara itu banyak dari yang gagal mencapai keberhasilan hidup yang lebih baik karena lemahnya citra diri (negatif) citra diri. Kematangan emosi sangat menentukan kuat lemahnya citra diri yang kita miliki.

Orang yang memiliki kematangan emosi biasanya terlatih dalam kondisi yang tenang, sehingga ia tidak bereaksi dengan cepat segala yang muncul terhadap dirinya. Ia selalu memikirkan respon yang akan ia lakukan. Apakah maksud orang tersebut bercanda ataupun sengaja dia akan memikirkan terlebih dahulu kata yang pantas diucapkan agar dinilai lebih etis.

Kesimpulan

Kematangan emosi mencakup berbagai aspek yang mencirikan kemampuan individu untuk mengelola dan merespons emosinya dengan bijaksana. Kesadaran diri menjadi ciri kunci, di mana seseorang memahami dan mengenali emosinya dengan jelas. Kemudian, kontrol diri memainkan peran penting, memungkinkan seseorang mengelola impuls dan reaksi emosionalnya dengan tepat. Empati, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, juga menjadi faktor penting dalam kematangan emosi. Selain itu, keseimbangan emosional dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan juga mencirikan individu yang matang emosinya. Kematangan emosi membantu menciptakan hubungan yang sehat dan memperkuat ketahanan mental.

Sumber Literasi

Manz, Charles C., (2007). Manajemen Emosi. Diva Press Group: Jogjakarta.

Meichati.S.(1983). Kesehatan Mental. Yogyakarta: Fak. Psikologi Universitas Yogyakarta.

Hurlock, E.B.(1988). Perkembangan Anak. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, E.B. (1990). Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Goleman, Daniel, , Emotional Intelligence, terj. T Hermaya, (Jakarta: PT Scholastic Press Main, 2002). hlm. 513-514.

Maramis, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 580.

Pertiwi. Pustaka Pintar Haji dan Umrah. Inovasi, Jakarta No 2 (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 1998), hlm.64-84.

 

Banyak yang baca