Konsep Kurikulum di Indonesia

Pengertian Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat rencana-rencana dan pengaturanpengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) kurikulum merupakan segala upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk mempengaruhi siswa agar dapat belajar, baik dalam ruangan kelas maupun diluar sekolah. Sementara itu, Harold B. Albert (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (all of the activities that are provided for the students by the scool) (Rusman, 2012 : 3).

Kurikulum menurut Surahmad merupakan sesuatu yang dijadikan pedoman dalam segala kegiatan pendidikan yang dilakukan, termasuk kegiatan belajar mengajar dikelas. Dalam hal ini kita dapat memandang bahwa kurikulum merupakan suatu program yang di desain, direncanakan, dikembangkan, dan akan dilaksanakan dalam situasi belajar mengajar yang sengaja diciptakan di sekolah. Atas dasar hal tersebut, kurikulum kemudian dapat didefinisikan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu (Burhan Nurgiyantoro, 2008 : 6).

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) disebutkan bahwakurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kurikulum ialah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan (Dakir, 2004 : 3).

Dalam sistem pendidikan Islam, kurikulum di kenal dengan istilah “manhaj” yang berarti jalan terang. Makna tersirat dari jalan terang tersebut menurut al-Syaibany adalah jalan yang harus dilalui oleh para pendidik dan anak-anak didik untuk mengembangkan ketrampilan, pengetahuan dan sikap mereka (Oemar Malik, 2008 : 25).

William B. Ragam, dalam “Modern Elementary Curiculum” (1966) mengemukakan bahwa kurikulum dipakai dalam dunia pendidikan sebagai sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa dalam rangka kenaikan kelas atau memperoleh ijazah. Sedangkan Harold B. Alberty dalam Reorganizingthe high school curikulum (1965), memandang kurikulum sebagai all off the activities that are provide for the students by the school. Kurikulum yang dimaksud adalah segala kegiatan yang disajikan oleh bagi anak didik. Tidak ada pembatasan silabus.web.id antara kegiatan didalam kelas dan diluar kelas. Kemudian menurut Soedjiarto (1991) mengartikan kurikulum pada lima tingkatan, diantaranya yang pertama sebagai serangkaian tujuan yang menggambarkan berbagai kemampuan (pengetahuan dan ketrampilan). Kemudian yang kedua yaitu sebagai kerangka materi yang memberikan gambaran tentang bidang-bidang study yang perlu dipelajari oleh anak didik untuk menguasai serangkaian kemampuan, nilai, dan sikap secara internasional. Ketiga, kurikulum diartikan sebagai garis besar materi dari suatu bidang study yang telah dipilih untuk dijadikan objek belajar. Pada tingkatan ke empat kurikulum diartikan sebagai suatu panduan dan buku pelajaran yang disusun untuk penunjang terjadinya proses belajar mengajar. Sedangkan pada tingkatan kelima, kurikulum diartikan sebagai suatu bentuk dan jenis kegiatan belajar mengajar yang dialami oleh pelajar, termasuk didalamnya berbagai jenis, bentuk, dan frekuensi evaluasi yang digunakan sebagai bagian terpadu dari strategi belajar mengajar (Khoiron Rosyadi, 2004 : 243 – 244).

Berdasarkan rangkuman dari Prof. Dr. H. Jalaluddin dan Drs. Abdullah Idi, M.Ed dalam bukunya mengenai filsafat pendidikan tahun 1997 menyebutkan bahwa kurikulum merupakan faktor yang penting dalam proses pendidikan. Segala hal yang harus diketahui, diresapi, serta dihayati oleh anak didik haruslah ditetapkan dalam kurikulum dan segala hal yang harus di ajarkan oleh pendidik pada anak didiknya itupun haruslah dijabarkan di dalam kurikulum.

Dari pengertian-pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan rumusan dan tujuan mata pelajaran serta garis besar pokok bahasan penilaian dan perangkat lainya. Sedangkan pokok pikiran yang biasa di dalam kurikulum adalah tujuan pendidikan dan bahan pelajaran, pengalaman, serta aspek perencanaan. Jadi kurikulum adalah pengalaman belajar, baik pengalaman belajardidalam lingkungan sekolah maupun pengalaman belajar diluar lingkungan sekolah. Misalnya jika seseorang ingin mengetahui karakteristik masyarakat disuatu daerah, maka sekolahnya sebagai media yang sangat strategis dan representative untuk melihatnya. Setiap nilai yang lahir dan diperoleh dari sekolah akan termanifestasi dalam kehidupan masyarakatnya juga, baik negatif maupun positif.

 

Fungsi dan Tujuan Kurikulum

Kurikulum sebagai organisasi belajar disusun dan disiapkan untuk siswa sebagai salah satu konsumsi pendidikan mereka.Dengan kurikulum siswa diharapkan mendapatkan sejumlah pengalaman baru yang kelak di kemudian hari dapat dikembangkan seirama dengan perkembangan mereka guna melengkapi bekal hidup mereka (Esti Ismawati, 2012 : 6).

Pengembangan kurikulum selalu menggunakan berbagai prinsipprinsip dan pendekatanya. Hal ini mempunyai arti bahwa kurikulum itu diharapkan dapat menghasilkan output yang berkualitas, mempunyai nilai relevansi terhadap pengembangan atau apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan kata lain, program-program yang ditawarkan oleh dunia pendidikan diharapkan memiliki arti yang mendalam bagi anak didik, keluarga dan bangsa menurut perkembangan zaman (Abdullah Idi, 2014 : 113).

Fungsi kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Selain itu fungsi kurikulumjuga merupakan alat untuk membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional, termasuk berbagai tingkatan tujuan pendidikan silabus.web.id yang ada di bawahnya. Kurikulum sebagai alat dapat diwujudkan dalam bentuk program, yaitu kegiatan dan pengalaman belajar yang harus dilaksanakan oleh guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Program tersebut harus dirancang secara sistematis, logis, terencana, dan sesuai dengan kebutuhan, sehingga dapat dijadikan acuan bagi guru dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran yang efektif (Zainal Arifin, 2011 : 13)

Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, yaitu kurikulum sebagai dokumen dan kurikulum sebagai implementasi. Sebagai dokumen kurikulum berfungsi sebagai pedoman guru. Sedangkan kurikulum sebagai implementasi adalah realisasi dari pedoman dalam kegiatan pembelajaran. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum, tetapi juga sebagai pengembang kurikulum dalam kegiatan pembelajaran.

Tujuan kurikulum sekolah menurut Esti Ismawati (2012 : 10) ada dua macam yang pertama yaitu tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan. Tujuan ini meliputi aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan niali-nilai yang diharapkan oleh lulusan sekolah. Tujuan ini disebut silabus.web.id dengan tujuan institusional atau kelembagaan. Kemudian tujuan yang kedua yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi. Tujuan ini disebut tujuan kurikuler, adalah penjabaran dari tujuan institusional. Tujuan ini meliputi tujuan instruksional yang diharapkan dimiliki siswa setelah mempelajari tiap bidang studi dan pokok bahasanya dalam proses pengajaran.

Tujuan kurikulum tiap satuan pendidikan harus mengacu kearah pencapaian tujuan pendidikan secara nasional, sebagaimana telah ditetapkan di dalam Undang-Undang Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam skala yang lebih luas, kurikulum merupakan suatu alat pendidikan dengan tujuan untuk mengembangan sumberdaya manusia yang berkualitas. Kurikulum selalu menyediakan kesempatan-kesempatan yang luas bagi para peserta didik untuk mengalami berbagai macam proses pendidikan dan pembelajaran guna mencapai target tujuan pendidikan nasional khususnya dan sumberdaya manusia yang lebih berkualitas pada umumnya (Oemar Hamalik, 2005 : 24).

Sumber Bacaan

Rusman, 2012. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Nurgiyantoro, Burhan, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2008.

Alberty, H.B. & Alberty, E.J. (1965).Recognizing the highschool Curriculum third edition. New York : The Macmillan Company.

Oemar Hamalik. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Offset.

Ismawati, Esti. (2012). Telaah Kurikulum dan Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Abdullah Idi, 2014. Pengembangan Kurikulum, Teori & Praktik, Jakarta: Rajawali Pers.

Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tags: , , , , , , , , ,

Diposting oleh Adica


This article has 2 comments

  1. aing Reply

    tolong biasakan mencantumkan daftar pustaka atau referensi yang digunakan

    • John Dewey Adica Reply

      Rusman, 2012. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, RajaGrafindo Persada, Jakarta

      Nurgiyantoro, Burhan, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2008.

      Alberty, H.B. & Alberty, E.J. (1965).Recognizing the highschool Curriculum third edition. New York : The Macmillan Company.

      Oemar Hamalik. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

      Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Offset.

      Ismawati, Esti. (2012). Telaah Kurikulum dan Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

      Abdullah Idi, 2014. Pengembangan Kurikulum, Teori & Praktik, Jakarta: Rajawali Pers.

      Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *