Manusia dalam Pandangan Humanistik Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara

Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang keberadaan manusia adalah manusia sebagai makhluk individu  sekaligus  makhluk  sosial.  Sebagai makhluk individu manusia tidak dapat  menghidupi  dirinya  tanpa  bantuan orang lain. Kehidupan manusia yang membutuhkan bantuan orang lain adalah ciri makhluk hidup sosial, dalam kehidupannya, mereka tidak dapat hidup sendiri tetapi selalu bermasyarakat.

Dalam tulisannya yang berjudul Keindahan Manusia  Ki  Hajar Dewantara juga berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berbudi, sedangkan budi artinya jiwa yang telah  melalui  batas  kecerdasan  yang tertentu, hingga menunjukkan perbedaan yang tegas dengan jiwa yang dipunyai hewan. Jiwa hewan hanya berisiskan nafsu-nafsu kodrati,  dorongan dan keinginan, insting dan kekuatan lain yang semuanya itu tidak cukup kuasa untuk menentang kekuatan-kekuatan itu, baik yang datang dari luar maupun dari dalam jiwanya. Jiwa hewan semata-mata sanggup untuk melakukan tindakan-tindakan yang sangat perlu untuk memelihara kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang masih sanggat sederhana, misalnya makan, minum, bersuara, lari dan sebagainya.1

Lebih jauh lagi, Ki Hajar memandang  bahwa  setiap  manusia mempunyai keunikan masing-masing di dalam hidupnya, Bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin.  Hal  ini senada dengan pandangan Abraham Maslow  yang  dalam  teorinya  yang terkecil adalah hierarchy of needs (hierarki kebutuhan) bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan  hidupnya  yaitu physiological needs (kebutuhan fisiologis), safety  and  security needs (kebutuhan rasa aman), love and belonging need (kebutuhan akan rasa kasih sayang dan memiliki), esteem needs (kebutuhan akan harga diri) dan self actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri). Akan tetapi Ki  Hajar Dewantara lebih mengutamakan persamaan derajat antara setiap individu. Menurut beliau, persamaan itu harus dilihat dari hal sama dan sederajat dalam hak dan kewajibannya, menyejahterakan masyarakat  adalah  unsur  yang penting dalam paham kerakyatan yang digagas oleh Ki Hajar.  secara Embrional cita-cita ke arah itu merupakan bagian  paham  kemajuan  pada paham setelah Kartini.2 Ditinjau dari sudut pandang di atas, maka sudah selayaknya manusia hasil pendidikan (yang merdeka pikirannya, merdeka batinnya dan merdeka jasmaninya) adalah usaha yang terus menerus, usaha setiap hari, bukan hanya di sekolah formal tetapi juga dalam kaitan hidup bermasyarakat.3

Ki Hajar melihat manusia lebih pada sisi psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan individu sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan  pada  aspek  intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta  didik  dari  masyarakatnya.  Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya  menekankan pada daya cipta, dan kurang menekankan pengembangan olah rasa dan  karsa.  Jika  berlanjut akan menjadikan manusia kurang humanis atau kurang manusiawi.4

Sebaliknya dikatakan bahwa jiwa manusia merupakan diferensiasi dari kekuatan-kekuatan, yang terkenal  dengan  sebutan  “Tri-Sakti”.  Ketiga kekuatan yang dimaksud ialah pikiran, rasa dan kemauan, atau “cipta-rasa- karsa” yang telah dipaparkan di atas. Tri-Sakti inilah yang disebut budi.5

Di bawah ini akan di jelaskan lebih rinci lagi mengenai hal-hal di atas :

Budi manusia tidak saja berkuasa untuk memasukkan segala  isi  alam yang ada di luar dirinya ke dalam jiwa dengan  perantaraan  panca  indra. Namun, budi manusia juga berkuasa untuk  “mengelola”  atau  “memasak” segala isi alam yang memasuki jiwanya sehingga menjadi  buah.  Sementara buah budi manusia itu disebut kebudayaan.

Pikiran mempunyai tugas memisah-misah bagian-bagian suatu hal, suatu keadaan, barang atau keadaan, serta  membanding-bandingkan  yang  satu dengan yang lain (menganalisis) dan akhirnya menetapkan benar atau tidak benarnya sesuatu itu. Rasa adalah gerak-gerik jiwa  yang  biasanya  timbul karena kekuatannya sendiri dan berlaku sebelum  orang  menghendakinya dengan sengaja. Adapun tugasnya ialah menetapkan baik  atau  buruknya sesuatu. Kemauan yaitu keinginan yang sudah tetap dan pasti, sudah dipikir- pikirkan hanya tinggal melaksanakan saja.

Tiap-tiap manusia mempunyai sifat budi masing-masing, sifat yang tetap dan pasti, disebut watak (cap atau cliche). Dalam  hal  ini,  Ki  Hajar Dewantara memakai istilah perbuatan budi pekerti dan ini lebih tegas karena “pekerti” berarti “tenaga”. Jadi, budi pekerti  berarti  sifat  dari  “budi”nya (batin) sampai “pekerti”nya (lahir).

Sifat jiwa manusia itu berisikan beberapa corak warna yang menurut penelitian filsafat dapat digolongkan menjadi dua pokok, yaitu sifat etika dan sifat estetika, yang masing-masing berarti baik dan indah. Dalam bahasa kita biasanya digunakan kata “luhur” dan “halus”, dengan maksud sama, yaitu menjelaskan bahwa budi manusia  itu  mengingini  atau  menghendaki  segala apa yang baik atau luhur dan yang indah atau halus.6

Di dalam usaha pendidikan sekarang ini, tentunya sangat  dibenarkan sekali hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang tokoh yang bernama Maria Montessori dengan segala eksperimennya yang telah  dilakukan  selama  ini, hasil dari penelitian itu adalah adanya ketergantungan dan juga pengaruh yang sangat penting antara latihan-latihan jasmani (zintuigoefaningen) dan perkembangan pikiran, rasa dan kemauan, termasuk latihan-latihan olahraga. Sedangkan Rudolf Steiner mengatakan bahwa latihan-latihan tersebut bisa berupa latihan-latihan kesenian (eurhytmy).

Semua orang tentu sudah memahami bahwa derajat manuisialah yang paling luhur di alam dunia ini.  Setiap  agama  mengajarkan  juga  bahwa manusia itu adalah makhluk yang paling mulia, amat  dicintai dan dikaruniai oleh Tuhan dengan sifat-sifat yang utama  sehingga  manusia  tidak  sama dengan makhluk lainnya. Manusia juga diberi tugas  sebagai  pemimpin  di dunia. Pemikir klasik dan orisinal kita, Ki Ageng Suryomentaram, yang ternyata sangat mempengaruhi pemikiran Ki Hajar, dalam kerangka filsafat “mawas diri” nya memberikan ide manusia sejati sebagaimana diuraikannya dalam “Ilmu Jiwa Kramadangsa”nya. Citra manusia yang sejati adalah “manusia tanpa ciri”. Artinya, manusia yang sungguh menyadari dirinya, “aku”nya, mengenal secara mendalam siapa dirinya. pengenalan diri secara mendalam akan membimbing orang untuk dapat mengetahui atau menguasai rasa pribadi, dan demikian lahirlah manusia tanpa ciri. Maka atas dasar itulah, akan mengarahkan pada tujuan utama pendidikan yaitu mendidik anak menjadi manusia utuh, yang mencinta kasihi sesamanya dan alam sekitarnya.7

Dari berbagai macam penjelasan di atas tentunya kita dapat memahami bagaimana seorang Ki Hajar  Dewantara  memandang  tentang  hakikat manusia yang sebenarnya, bahwa sari-sari dan pokoknya tidak lain daripada dua pangkal sifat tadi, yaitu keluhuran dan kehalusan. Dan inilah yang disebut perikemanusiaan seperti menjadi satu dari dasar pancasila ataupun juga bisa dianggap dasar yang paling luas dan paling mendalam. Itulah pandangan yang selalu diserukan oleh Ki Hajar Dewantara dari dulu sampai sekarang, tentunya pandangan tersebut masih relevan untuk kita renungkan dan kita aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya, bukan kehidupan bermasyarakat yang dilandasi rasa egoistik ataupun hilangnya rasa humanis (dehumanisasi).

Sumber Bacaan

1 Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 53.

2 Abdurrahman Surjomihardjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa …, hlm. 26.

3 Abdurrahman Surjomihardjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa …, hlm. 30.

4 Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 53.

5 Zaim El-Mubarok, Membumikan Pendidikan Nilai, Mengumpulkan yang Terserak, Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 26.

6 Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, hlm. 54.

7 Martin Sardy, Pendidikan Manusia, hlm. 16.

Banyak yang baca