Model Pembelajaran Discovery Learning

Model Pembelajaran Discovery Learning

Pengertian Model Pembelajaran

Penggunaan model pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk memudahkan penyampaian materi yang akan diajarkan. Komalasari (2010: 57) mengemukakan bahwa model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Menurut Wahab (2001: 52), model pembelajaran adalah sebuah perencanaan pengajaran yang menggambarkan proses yang ditempuh pada proses belajar mengajar agar dicapai perubahan spesifik pada perilaku siswa seperti yang diharapkan.

Rustaman (2011: 2.17) mengungkapkan bahwa pada pengembangan model pembelajaran dalam pandangan konstruktivis harus memperhatikan dan mempertimbangkan pengetahuan awal siswa yang mungkin diperoleh di luar sekolah serta dalam pembelajarannya harus melibatkan siswa dalam suatu kegiatan yang nyata. Model pembelajaran merupakan salah satu cara guru untuk menyampaikan materi ajar yang disajikan.

Pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran merupakan suatu perencanaan pembelajaran yang telah disusun secara sistematis. Perencanaan pembelajaran tersebut dijadikan pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

 

Pengertian Discovery Learning

Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Eggen (2012: 177), temuan terbimbing adalah satu pendekatan mengajar di mana guru memberi siswa contoh-contoh topik spesifik dan memandu siswa untuk memahami topik tersebut.

Wilcox (dalam Hosnan, 2014: 281) menyatakan bahwa dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Hanafiah dan Suhana (2010: 77) bahwa discovery merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki agar dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Hosnan (2014: 282) menyebutkan bahwa discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan berasyarakat.

Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa discovery learning adalah model pembelajaran yang menuntut siswa secara aktif melakukan pencarian pengalaman belajar menggunakan analisis dan pemecahan masalah yang dihadapinya dengan menemukan dan menyelidiki sendiri. Pengalaman belajar tersebut bisa dimanfaatdalam kehidupan bermasyarakat siswa.

 

Tujuan Pembelajaran Discovery Learning

Penggunaan model dalam pembelajaran, memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pembelajaran discovery learning juga memiliki tujuan pembelajaran. Bell (dalam Hosnan, 2014: 284) mengungkapkan beberapa tujuan spesifik dari discovery learning, yakni sebagai berikut.

  1. Dalam discovery learning siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukkan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran banyak meningkat ketika discovery learning digunakan.
  2. Melalui discovery learning, siswa menemukan pola sistuasi konkret maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.
  3. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
  4. Discovery learning membantu siswa membentuk cara kerja sama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
  5. Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keterampilanketerampilan, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui discovery learning lebih bermakna.
  6. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi discovery learning dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktivitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar baru.

 

Karakteristik Pembelajaran Discovery Learning

Setiap model pembelajaran memiliki karakteristiknya masing-masing.

Hosnan (2014: 284) menyebutkan tiga ciri utama dalam discovery learning, yaitu sebagai berikut.

  1. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan.
  2. Berpusat pada siswa.
  3. Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada.

 

Kelebihan dan Kekurangan Model Discovery Learning

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, begitu juga dengan model discovery learning. Beberapa kelebihan dari model discovery learning yang diungkapkan oleh Hosnan (2014: 287-288) yaitu sebagai berikut.

  1. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif.
  2. Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah.
  3. Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer.
  4. Strategi ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
  5. Strategi ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerjasama dengan yang lainnya.
  6. Berpusat kepada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan.
  7. Mendorong keterlibatan keaktifan siswa.
  8. Menimbulkan rasa senang siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
  9. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
  10. Siswa akan mengerti konsep dasar ide-ide lebih baik.
  11. Melatih siswa belajar mandiri.
  12. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.

Pendapat tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Marzano (dalam Markaban, 2008: 18), yang menyebutkan beberapa kelebihan model discovery learning yaitu:

  1. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
  2. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencaritemukan).
  3. Mendukung kemampuan problem solving siswa.
  4. Memberikan wahana interaksi, dengan demikian siswa terlatih menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  5. Materi yang dipelajari mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan membekas karena siswa dilibatkan dalam proses penemuan.
  6. Siswa belajar bagaimana belajar (how to learn).
  7. Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.
  8. Melatih keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Discovery learning melatih siswa untuk lebih mengenal ilmu pengetahuan disekitarnya, karena siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan intelektual siswa melalui bimbingan guru. Discovery learning juga memiliki kekurangan. Kekurangan model discovery learning, menurut Markaban (2008: 18-19) yaitu sebagai berikut.

  1. Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih banyak.
  2. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
  3. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan model temuan terbimbing.

Hosnan (2014: 288-289) juga mengungkapkan beberapa kekurangan discovery learning, yaitu sebagai berikut.

  1. Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan siswa.
  2. Menyita waktu banyak, karena guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar.
  3. Menyita pekerjaan guru.
  4. Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan.
  5. Tidak berlaku untuk semua topik.

Dari beberapa pendapat para ahli tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa discovery learning melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran yang membuat siswa lebih lama mengingat apa yang sudah dipelajarinya dan melatih siswa belajar mandiri, namun discovery learning membutuhkan banyak waktu dan tidak semua topik cocok untuk model ini serta tidak semua siswa mampu melakukan penemuan.

 

Tahap-tahap Pelaksanaan Discovery Learning

Dalam proses pembelajaran, diperlukan suatu langkah-langkah pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Eggen (2012: 189) menyebutkan langkah-langkah yang dilakukan dalam temuan terbimbing (guided discovery learning), yaitu sebagai berikut.

Fase 1: pendahuluan

Fase 1 diniatkan untuk menarik perhatian siswa dan memberikan kerangka kerja konseptual mengenai apa yang harus diikuti. Fase ini bisa mulai dengan berbagai cara dan dapat terdiri dari pernyataan-pernyataan sederhana.

Fase 2: fase berujung-terbuka (open-ended phase)

Fase berujung terbuka bertujuan mendorong keterlibatan siswa dan memastikan keberhasilan awal mereka, pada fase ini dapat dimulai dengan berbagai cara, yaitu:

  1. Memberikan contoh dan meminta siswa mengenali pola-pola di dalam contoh itu.
  2. Melaksanakan kelas pelajaran dalam situasi kelas-utuh, memberi siswa satu contoh dan meminta mereka mengamati dan menggambarkannya.
  3. Memberikan satu contoh dan noncontoh serta meminta siswa membandingkan keduanya.
  4. Memulai dengan satu noncontoh dan meminta siswa menggambarkannya.

Fase 3: konvergen

Pada fase ini, guru membimbing para siswa agar resepon mereka seragam terhadap satu tujuan belajar spesifik. Inilah fase dimana siswa secara aktual membangun pengetahuan mereka mengenai konsep atau generalisasi.

Fase 4: penutup dan penerapan

Penutup terjadi ketika siswa mampu secara lisan menyatakan karakteristik-karakteristik dari konsep atau secara verbal menggambarkan hubungan yang ada dalam generalisasi. Fase 4 juga memberikan kesempatan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan mereka mengenali informasi yang tidak relevan, kemampuan yang merupakan keterampilan berpikir penting. Fase penerapan umumnya mencakup tugas di tempat duduk atau di rumah. Akan tetapi, terlepas dari pengembangan cermat konsep atau generalisasi, penerapan kerap menuntut bantuan tambahan dari guru. Memonitor secara cermat dan membahas upaya awal siswa dalam fase penerapan akan memperkuat pembelajaran dengan membantu siswa menjembatani kesenjangan antara kegiatan belajar yang dibimbing guru dan praktik mandiri. Langkah-langkah tersebut sejalan dengan langkah-langkah operasional implementasi dari discovery learning dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut.

a. Langkah Persiapan Strategi Discovery Learning

1) Menentukan tujuan pembelajaran.
2) Melakukan identifikasi karakteristik siswa kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya.
3) Memilih materi pelajaran yang akan dipelajari.
4) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif dari contoh-contoh generalisasi.
5) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
6) Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
7) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa. (Hosnan, 2014: 289).

b. Prosedur Aplikasi Strategi Discovery Learning

Menurut Syah (dalam Hosnan, 2014: 289), ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam melaksanakan strategi discovery learning pada kegiatan belajar mengajar secara umum, yaitu sebagai berikut.

1) Problem statemen (pernyataan/identifikasi masalah)

Pada tahap ini, guru memberi kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis jawaban sementara atas pernyataan masalah.

2) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

3) Data collection (pengumpulan data)

Pada tahap ini, berfungsi untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.

4) Data processing (pengolahan data)

Pada tahap data processing (pengolahan data) merupakan kegiatan megolah data dan informasi yang telah diperoleh siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya. Untuk selanjutnya ditafsirkan, dan semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, atau bahkan dihitung dengan cara tertentu.

5) Verification (pembuktian)

Pada tahap verification (pembuktian) ini, siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

6) Generalization (generalisasi/menarik kesimpulan)

Tahap generalisasi adalah tahap proses menarik sebuah kesimpulan yang daat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penerapan dalam discovery learning adalah problem statemen (pernyataan masalah), stimulation (stimulasi), data collection (koleksi data), data processing (proses data), verification (pembuktian), dan generalization (kesimpulan).

Sumber Bacaan

Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21: Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta. Ghalia Indonesia

Markaban, 2008. Model Penemuan Terbimbing Pada Pembelajaran Matematika SMK. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Matematika

Paull Eggen Don Kauchak, 2012. Strategi dan Model Pembelajaran, Jakarta : PT.Indeks

Arief S. Sadiman, dkk. 2009. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Press.

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Banyak yang baca