Sekolah sebagai pusat perubahan perlu mengupayakan secara sungguh-sungguh pendidikan yang berbasis karakter dan budaya bangsa. Karakter dan budaya bangsa yang dikembangkan di sekolah harus diselaraskan dengan karakter dan budaya lokal, regional, dan nasional. Untuk itu, pendidikan karakter dan budaya bangsa perlu dikembangkan berdasarkan kearifan lokal.
Kerangka pengembangan karakter dan budaya bangsa melalui pembelajaran di kalangan tenaga pendidik dirasakan sangat penting. Sebagai agen perubahan, pendidik diharapkan mampu menanamkan ciri-ciri, sifat, dan watak serta jiwa mandiri, tanggung jawab, dan cakap dalam kehidupan kepada peserta didiknya. Di samping itu, karakter tersebut juga sangat diperlukan bagi seorang pendidik karena melalui jiwa ini, para pendidik akan memiliki orientasi kerja yang lebih efisien, kreatif, inovatif, produktif serta mandiri.
Penguatan Pendidikan Karakter
Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia di tahun 2045. Salah satu upaya yang dilakukan dengan memunculkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) untuk menguatkan karakter generasi muda agar memiliki keunggulan dalam persaingan global abad 21. Bisa dibilang pendidikan karakter merupakan kunci yang sangat penting di dalam membentuk kepribadian anak yang unggul, mempunyai etos kerja tinggi, inovatif namun berbudi luhur.
Program PPK merupakan program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi) dan olah raga (kinestetik) sesuai dengan falsafah Pancasila.
Melalui PPK, pemerintah mendorong peningkatan literasi dasar, kompetensi berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi generasi muda. Program ini tidak mengharuskan siswa untuk terus menerus belajar di kelas, tapi memanfaatkan berbagai sumber belajar lain di luar kelas. Sebenarnya pendidikan karakter sudah menjadi program di seluruh persekolahan. Namun masih perlu upaya terobosan agar pendidikan karakter ini bisa dilaksanakan secara konsisten oleh sekolah dan memberikan dampak yang nyata pada pembentukan karakter siswa. Penerapan PPK ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan karakter positif peserta didik melalui berbagai kegiatan ko-kurikuler, ekstrakurikuler dalam pembinaan guru.
Untuk menyukseskan program ini, tugas dan peran guru serta kepala sekolah dalam implementasi PPK sangat diperlukan. Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran di kelas dan mampu mengelola manajemen kelas. Kepala Sekolah dapat mendesain budaya sekolah yang menjadi ciri khas dan keunggulan sekolah tersebut. Lalu peran keduanya mendesain keterlibatan publik yakni orang tua dan masyarakat untuk peningkatan kualitas sekolah.
Nilai Karakter Utama
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai pondasi dan ruh utama pendidikan, Tidak hanya olah pikir (literasi), PPK juga mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat di lakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler di sekolah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitaskomunitas di luar lingkungan pendidikan.
Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu relegius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan ke gotong royongan. Masing–masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.
Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadapan Tuhan yang Maha Esa yang di wujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.
Implementasi nilai karakter relegius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi menghargai perbedaan agama dan kepercayaan.
Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepadulian dan perhargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang selalu dapat di percaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai –nilai kemanusiaan dan moral.
Nilai karakter Mandiri merupakan sikap dam perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikian, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan citacita.
Karakter Gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menjelesaiakn persoalan bersama menjalani komunikasi dan persahabatan,memberi bantuan atau pertongan pada orang-orang yang membutuhkan.
Program ini sudah mulai berjalan di sekolah-sekolah yang di tunjuk oleh Kementerian pendidikan dan kebudayaan. Agar dapat brlangsungnya mengembangkan budaya mutu perlu semangat dan mencapai hasil yang maksimal perlu peran serta pemerintah pusat hal ini Kementerian pendidikan, Dinas pendidikan dan LPMP sangat mempunyai pesan dan daya dorong untuk sekolah-sekolah dan akan berdampak ke sekolah yang lain.