Pengertian Cooperative Learning

Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok. Model pembelajaran cooperative learning merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Saptono, 2003). Siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, dan berdiskusi dengan teratur.

Pembelajaran koopeatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivisme.Pembelajaran koopeatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam penyelesaian tugas kelompoknya, setiap siswa harus saling bekerja sama, saling membantuuntuk memahami materi pelajaran. Dalam belajar dikatakan belum selesai jika salah satu anggota belum menguasai bahan pelajaran (Isjoni, 2011:14).  Cooperative learning merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam Cooperative learning, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok blum menguasai bahan pelajaran.

Slavin (2008) dalam Khaeriyah (2015) mengemukakan dua alasan mengapa model cooperative learning baik di gunakan untuk para pendidik yaitu, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan cooperative learning dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, cooperative learning dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.

Penggunaan model cooperative learning bukan sekedar pembelajaran dalam kelompok namun disini terlihat adanya suatu interaksi sosial antar siswa sehingga akan timbul jiwa solidaritas antar sesama dan menerima segala kekurangan yang ada serta saling membantu mewujudkan keberhasilan pembelajaran. Cooperative learning tidak hanya dapat meningkatkan hasil belajar siswa namun menumbuhkan pemikiranpemikiran siswa dalam pembelajaran. Pengelompokkan dalam belajar dengan cooperative yang bersifat heterogen ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman dan memberikan konstribusi dalam kelompok sehingga tidak ada anggota yang dominan dalam kelompok.

Model ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan membantu teman. Dalam pembelajaran cooperatve siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

Ciri-ciri Cooperative Learning

Sanjaya (2008) dalam Khaeriyah (2015) mengemukakan bahwa, cooperative learning berbeda dengan strategi pembelajaran lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok.

Sanyaja (2008) dalam Khaeriyah (2015) menyatakan bahwa, Karakteristik model cooperative learning yaitu sebagai berikut:

a). Pembelajaran secara tim

Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim.

b). Didasarkan pada managemen cooperative

Berdasarkan manajemen cooperative yaitu yang pertama, fungsi perencanaan menunjukkan pembelajaran cooperative memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan efektif. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa cooperative learning adalah pekerjaan bersama antar anggota kelompok, maka perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam cooperative learning perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun non tes.

c). Kemauan untuk bekerja sama

Setiap masing-masing dari anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawabnya, akan tetapi juga ditanamnkan perlunya saling membantu satu sama lain. Misalnya, yang pintar membantu yang kurang pintar dalam proses pembelajaran.

d). Keterampilan bekerja sama

Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian di praktikan melalui aktivitas dan kegiatan-kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.

Tujuan dan Manfaat Cooperative Learning

Abdul Majid (2013) dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat tiga tujuan pokok belajar kooperatif adalah: Pertama, mengatakan kinerja siswa dalam tugastugas akademik. Model cooperative ini memiliki keunggulan dalam membantu siswa untk memahami konsep-konsep yang sulit. Kedua, agar siswa dapat menerima temantemanya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belakang. Ketiga, mengembangkan keterampilan sosial siswa, berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan idea tau pendapat, dan bekeja dalam kelompok.

Linda Lundgren (1994) dalam Abdul Majid (2013) mengemukakan bahwa, terdapat manfaat cooperative learning bagi siswa dengan prestasi belajar yang rendah, diantaranya yaitu: meningkatkan pencurahan waktu pada tugas-tugas siswa, rasa harga diri menjadi lebih tinggi, memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah, memperbaiki kehadiran siswa, angka putus sekolah menjadi rendah, penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar, perilaku mengganggu antar siswa menjadi lebih kecil, konflik antar pribadi berkurang, sikap apatis bekurang, pemahaman yang lebih mendalam, meningkatkan motivasi lebih besar, hasil belajar lebih tinggi, retensi lebih lama, dan meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.

Langkah-langkah Pembelajaran Cooperative Learning

Tabel 1 Langkah-langkah Pembelajaran Cooperative Learning

Fase dan Indikator Kegiatan Guru
Fase – 1 Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase – 2 Menyajikan Informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase – 3 Mengorganisasikan Siswa Kedalam Kelompok Kooperatif Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase – 4 Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase -5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase -6 Memberikan Penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Sumber: Abdul Majid (2013).

Kelebihan dan Kekurangan Cooperative Learning

Keunggulan Pembelajaran Cooperative

Sanjaya (2008) mengemukakan bahwa, keunggulan pembelajaran cooperative sebagai suatu model pembelajaran di antaranya:

  1. Melalui pembelajaran cooperative, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi akan menambah kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa lain.
  2. Pembelajaran cooperative mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
  3. Pembelajaran cooperative dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  4. Pembelajaran cooperative dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  5. Pembelajaran cooperative merupakan suatu model yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekligus kemampuan sosial.
  6. Melalui pembelajaran cooperative dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
  7. Pembelajaran cooperative dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
  8. Interaksi selama cooperative berlangsung dapat meningkatkan motivsi dan memberikan rangsangan untuk berfikir.

Kelemahan Pembelajaran Cooperative

Sanjaya mengemukakan bahwa, keunggulan pembelajaran cooperative sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya:

  1. Untuk siswa yang di anggap memiliki kelebihan akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat menganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
  2. Ciri utama dari pembelajaran cooperative adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa pembelajaran yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
  3. Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran cooperative didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prsetasi yang diharapkan adalah prsetasi setiap individu siswa.
  4. Keberhasilan pembelajaran cooperative dalam upaya mengembangkan kesadaran kelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali penerapan strategi.

Sumber Bacaan

Robert E. Slavin. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Sanjaya, Wina. (2008). Perencanaan dan desain sistem pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Saptono, R. 2003. Problem Based Learning (PBL). Yogyakarta: CAFEO.

Abdul majid .2013.Strategi Pembelajaran .Remaja Rosdakarya:Bandung.

Isjoni, (2011), Pembelajaran Kooperatif: Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. GLENCOE : Macmillan/ McGraw-Hill.

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *