Pengertian Jerawat : Epidemiologi, Faktor Resiko, Etiologi, Patogenesis dan Tingkatan Jerawat

Pengertian Jerawat Epidemiologi, Faktor Resiko, Etiologi, Patogenesis dan Tingkatan Jerawat

Pengertian Jerawat

Jerawat adalah penyakit peradangan kronis pada unit pilosebaceous yang dihasilkan dari peningkatan produksi sebum yang diinduksi androgen, peradangan, dan kolonisasi bakteri pada folikel rambut oleh Propionilbacterium acnes (Hywel C Williams, 2012). ‘Lesi’ subklinis yang paling awal pada jerawat, yang dikenal sebagai microcomedone, dapat berkembang menjadi komedo terbuka dan tertutup dan menjadi lesi inflamasi yang berbeda, seperti papula, pustula, nodul, dan kista (Omer, et al., 2016). Penjelasan mengenai jenis lesi pada jerawat berdasarkan dapat dilihat pada tabel berikut (Sibero, et al., 2019) :

Gambar Jenis Lesi Inflamasi Pada Jerawat (Muzdalifah & Adi, 2016)

Epidemiologi jerawat

Penyakit ini menempati urutan ke delapan yang paling sering terjadi di dunia dengan perkiraan 9,4% dari populasi penduduk dunia menderita jerawat (Zohra, et al., 2017). Kondisi kulit ini paling sering terjadi pada anak usia remaja akhir di dunia (Lynn, et al., 2016). Remaja akhir merupakan bagian akhir dari masa remaja yang secara luas terjadi pada usia 15-19 tahun (UNICEF, 2011). Kawasan Asia Tenggara ditemukan 40-80% kasus jerawat sedangkan menurut catatan studi dermatologi kosmetika Indonesia menunjukan yaitu 60% penderita jerawat pada tahun 2006, 80% terjadi pada tahun 2007 dan 90% pada tahun 2009 (Latifah & Evi, 2015).

Di Indonesia, prevalensi dari penderita jerawat yaitu 80 – 85% terjadi pada remaja dengan puncak insidennya yaitu pada usia 15 – 18 tahun (Muzdalifah & Adi, 2016). Insiden tertinggi terjadi pada usia remaja laki-laki umur 16-19 tahun dan perempuan 14-17 tahun (Sibero, et al., 2019). Penelitian yang dilakukan oleh Yosipovitch dkk, pada 160 siswa di seolah mengengah Choa Chu Kang Singapura, menemukan bahwa terdapat hubungan statistik yang bermakna antara tingkat stres psikologis dan derajat keparahan Akne vulgaris . Prevalensi pada kelompok tersebut dilaporkan tinggi, yakni 95% pada laki-laki dan 92% pada perempuan (Ratnasari & Indira, 2017). Pada usia remaja, jerawat merupakan penyakit utama, dimana 85% remaja terkena dengan tingkat keparahan tertentu (Ayudianti & Indramaya, 2014)

Etiologi dan faktor resiko jerawat

Menurut Kabau S dalam (Afriyanti, 2015) dan Ratnasari & Indira (2017) penyebab pasti jerawat belum diketahui akan tetapi sudah pasti disebabkan oleh multifaktorial yaitu :

1. Faktor genetik

Jerawat kemungkinan besar bisa terjadi dikarenakan penyakit genetik dimana di dalam tubuh penderita terdapat peningkatan dari respon unit pilosebaseus yang ada terhadap kadar normal androgen di dalam darah (Afriyanti, 2015). Faktor herediter sangat berpengaruh terhadap besar dan pola aktivitas dari kelenjar glandula sebasea (Latifah & Evi, 2015). Pola penurunannya tidak mengikuti Hukum Mendel, tetapi bila kedua orangtua pernah menderita jerawat berat pada masa remajanya, anak-anak akan memiliki kecenderungan serupa pada masa pubertas (Ramdani & Sibero, 2015).

2. Makanan (diet)

Terdapat beberapa makanan tertentu yang mampu memperberat jerawat. Makanan tersebut antara lain adalah makanan tinggi lemak (gorengan, kacang, susu, keju, dan sejenisnya), makanan tinggi karbohidrat (makanan manis, coklat, dll), alkohol, makanan pedas, dan makanan tinggi yodium (garam). Lemak dalam makanan dapat mempertinggi kadar komposisi sebum (Afriyanti, 2015).

3. Faktor kosmetik

Terdapat beberapa jenis kosmetika yang mampu menyebabkan terjadinya jerawat seperti bedak dasar (foundation), pelembab (moisturizer), sun screen dan cream malam, jika kosmetik tersebut mengandung bahan-bahan yang bersifat komedogenik. Bahan-bahan komedogenik seperti lanolin, petrolatum, minyak atsiri dan bahan kimia murni (asam oleik, butil stearat, lauril alkohol, bahan pewarna (D&C) biasanya terdapat pada krim-krim wajah. Untuk jenis bedak yang sering menyebabkan akne adalah bedak padat (compact powder) (Afriyanti, 2015). Penyebab utamanya yaitu adanya kandungan unsur minyak yang berlebih yang ditambahkan oleh produsen dalam kandungan kosmetik agar terlihat lebih halus. Kandungan minyak dapat mengakibatkan tersumbatnya pori-pori dan menyebabkan timbulnya jerawat (Ramdani & Sibero, 2015).

4. Faktor infeksi dan trauma

Peradangan dan infeksi yang terjadi di folikel pilosebasea bisa disebabkan karena peningkatan jumlah dan aktivitas dari flora yang hidup di folikel yaitu P. acnes, Corynebacterium acnes, Pityrosporum ovale dan Staphylococcus epidermidis. Bakteri tersebut berperan dalam upaya mengiritasi epitel folikel dan mempermudah terjadinya jerawat (Afriyanti, 2015).

Mikroorganisme utama yang terlokalisasi dalam folikel dan terlibat dalam patogenesis jerawat adalah P. acnes. P. acnes tumbuh baik pada kondisi anaerob dan menggunakan sebum sebagai sumber makanan (Aydemir, 2014). Sedangkan untuk trauma fisik dapat berupa gesekan, tekanan, garukan, peregangan, dan cubitan pada kulit (Afriyanti, 2015). Kondisi stress juga menyebabkan individu memanipulasi jerawat yang dimilikinya secara mekanis, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada dinding folikel selain itu juga menyebabkan timbul lesi meradang baru. Oleh karena itu, kondisi stress menyebabkan peluang untuk menderita jerawat cenderung meningkat (Latifah & Evi, 2015).

5 Faktor stress

Sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) adalah sistem neuroendokrin primer yang terlibat dalam respons stress. Sumbu HPA akan mengeluarkan hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan kortisol (Cor) (Wang, et al., 2015). Meningkatnya aktivitas ACTH di dalam aliran darah menyebabkan terjadinya aktivitas korteks adrenal. Hormon yang dihasilkan korteks adrenal salah satunya adalah hormon androgen dimana hormon androgen yang berlebihan menstimulasi kelenjar sebaseus kulit sehingga menyebabkan peningkatan produksi sebum (Ratnasari & Indira, 2017). Androgen mampu meningkatkan respon inflamasi makrofag dan neutrofil akibatnya androgen dapat meningkatkan tidak hanya aktivitas kelenjar sebaceous, tetapi juga peradangan yang mempromosikan pembentukan dan perkembangan jerawat (Lai, et al., 2013).

Patogenesis jerawat

Terdapat empat hal yang mempengaruhi patogenesis jerawat yaitu hiperproliferasi epidermis folikel, peningkatan produksi sebum, inflamasi, dan P. acnes (Goldsmith, et al., 2012).

1. Hiperproliferasi Epidermis Folikel

Hiperproliferasi epidermis folikel menghasilkan pembentukan mikrocomedo. Epitel folikel rambut bagian atas, infundibulum, menjadi hiperkeratotik dengan peningkatan kohesi keratinosit. Kelebihan sel dan kelengketannya menyebabkan sumbatan pada ostium folikuler. Sumbat ini kemudian menyebabkan keratin, sebum, dan bakteri hilir terkumpul di folikel. Sumbatan ini menyebabkan pelebaran folikel rambut bagian atas yang menghasilkan microcomedo. Stimulus untuk hiperproliferasi keratinosit dan peningkatan adhesi tidak diketahui. Namun, beberapa faktor yang diusulkan dalam hiperproliferasi keratinosit meliputi: stimulasi androgen, penurunan asam linoleat, peningkatan aktivitas interleukin-1 (IL-1), dan efek P. acnes (Goldsmith, et al., 2012).

2. Peningkatan Produksi Sebum

Produksi sebum yang berlebihan terjadi akibat aktivitas hormon androgen yang lebih hiperaktif pada penderita jerawat dibandingkan dengan orang normal lainnya. Sebum merupakan komponen penting dalam peradangan pada jerawat. Hal itu dibuktikan dengan terlibatnya sebum dalam seluruh patogenesis jerawat, dimana peningkatan sebum merupakan pra syarat terjadinya jerawat. Peningkatan sebum menyebabkan terjadinya pertumbuhan bakteri dan secara tidak langsung berkontribusi pada fase inflamasi (Aydemir, 2014). Selain itu, produksi berlebih sebum menyediakan sumber nutrisi dalam bentuk asam lemak untuk bakteri yang berkembang biak dengan cepat dalam PSU (Pilosebaceous Unit) (Lynn, et al., 2016).

3. Propionibacterium acnes

Propionibacterium acnes adalah bakteri gram positif yang bersifat anaerob yang mampu menyebabkan inflamasi pada kulit (Meilina & Hasanah, 2018). Mikroorganisme ini adalah yang utama terlokalisasi dalam folikel dan terlibat dalam patogenesis jerawat. P. acne tumbuh baik pada kondisi anaerob dan menggunakan sebum sebagai sumber makanan (Aydemir, 2014).

P.acnes menghasilkan enzim hidrolitik yang menginisiasi kerusakan folikel polisebasea serta menghasilkan enzim lipase, hialuronidase, protease, lesitinase, dan neurimidase yang memiliki peranan penting dalam proses peradangan. P.acnes akan mengubah asam lemak tak jenuh untuk menjadi asam lemak jenuh sehingga menyebabkan sebum menjadi padat. Produksi sebum yang bertambah akan menyebabkan P.acnes akan bertambah banyak keluar dari kelenjar sebasea dikarenakan P.acnes merupakan pemakan lemak (Meilina & Hasanah, 2018).

4. Inflamasi

Peradangan atau inflamasi adalah serangkaian proses bawaan non spesifik yang aktif sebagai sebuah respons terhadap invasi benda asing, kerusakan jaringan, atau oleh keduanya (Sherwood, 2012). Androgen mampu meningkatkan respon inflamasi makrofag dan neutrofil. Akibatnya, androgen dapat meningkatkan tidak hanya aktivitas kelenjar sebaceous, tetapi juga peradangan yang mempromosikan pembentukan dan perkembangan jerawat (Lai, et al., 2013).

Gambar : Patofisiologi Jerawat. (A) Mikrokomedo. Hiperkeratinosit infundibulum, korneosit yang kompak, sekresi sebum. (B) Komedo. Akumulasi dari korneosit dan sebum. (C) Papul/pustule inflamasi. Perluasan unit folikel lebih lanjut, Proliferasi Propionibacterium acnes, Peradangan perifollicular. (D) Nodul. Pecahnya dinding folikel dan terbentuknya jaringan parut. (Goldsmith, et al., 2012)

Derajat jerawat

1. Jerawat ringan

Komedo yang tersebar dengan atau tanpa adanya lesi inflamasi yang terlihat, biasanya terbatas pada kurang dari setengah wajah. Biasanya terjadi pada T-Zone dan tidak nampak nodul (Goldsmith, et al., 2012).

Gambar : Jerawat Derajat Ringan (Goldsmith, et al., 2012)

2. Jerawat sedang

Biasanya terjadi pada lebih dari setengah wajah sehingga dengan meningkatnya jumlah lesi, biasanya campuran lesi terlihat papula, pustula, dan komedo. Nodul yang jarang dan terbatas mungkin ada. Perubahan jaringan parut dan postinflamasi mungkin merupakan gejala sisa (Goldsmith, et al., 2012)

Gambar : Jerawat Derajat Sedang (Goldsmith, et al., 2012)

3. Jerawat berat

Banyak pustula dan lesi nodular yang dicampur dengan komedo dan papula yang lebih kecil menutupi seluruh wajah. Nodul yang dalam dan rapuh yang bergabung menjadi pseudokista terlihat pada jerawat conglobata. Bekas luka adalah komplikasi umum pada jerawat derajat berat (Goldsmith, et al., 2012).

Gambar: Jerawat Derajat Berat (Goldsmith, et al., 2012)

Banyak yang baca