Pengertian Kematangan Emosi

Pengertian Kematangan Emosi

Emosi” berasal dari kata “emotus” atau “emovere” yang berarti mencerca/menggerakkan (to stir up), kematangan emosi yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu dalam diri manusia, emosi merupakan penyesuaian organis yang timbul secara otomatis pada manusia dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.

Menurut Maramis emosi adalah suatu keadaan yang kompleks yang berlangsung biasanya tidak lama yang mempunyai komponen pada badan dan jiwa individu itu; pada jiwa timbul keadaan terangsang (excitement) dengan perasaan yang hebat serta biasanya terdapat impuls untuk berbuat tertentu; pada badan timbul gejala-gejala dari pihak susunan saraf vegetative umpamanya pada pernafasan, sirkulasi dan sekresi. 35 Bimo Walgito memberikan pengertian yang lebih sederhana bahwa emosi merupakan keadaan perasaan yang telah begitu melampaui batas sehingga untuk mengadakan hubungan dengan sekitarnya mungkin dapat terganggu.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan keadaan perasaan atau reaksi perasaan yang datangnya secara tiba-tiba terhadap perubahan situasi yang begitu melampaui batas sehingga untuk mengadakan hubungan dengan sekitarnya seseorang mungkin dapat terganggu, karena biasanya tidak dikendalikan oleh rasio atau akal. Emosi merupakan reaksi utama psikis terhadap stimuli dari lingkungan dan reaksi terhadap stimuli yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Manusia dapat merasakan emosi sebagai suatu respon terhadap pikiran, ingatan, dan perasaan tubuh yang muncul dalam dirinya.

Selanjutnya emosi merupakan perasaan yang ditujukan kepada seseorang, atau reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Rasa sedih, senang, bahagia, marah, dan depresi merupakan rasa yang berbeda dan diungkapkan dengan cara yang berbeda pula. Emosi berfungsi sebagai energizer dan messenger. Sebagai energizer, emosi berfungsi sebagai pembangkit energi. Emosi dapat memberikan semangat dalam bekerja bahkan juga semangat untuk hidup, seperti perasaan silabus.web.id cinta dan sayang. Namun, emosi juga dapat memberikan dampak negatif yang membuat merasakan hari-hari yang suram dan nyaris tidak ada semangat untuk hidup, seperti perasaan sedih dan benci. Sebagai messenger, emosi berfungsi sebagai pembawa pesan. Emosi member tahu bagaimana keadaan orang-orang yang berada di sekitarnya, terutama orang-orang yang dicintai dan disayangi, sehingga mereka dapat memahami dan melakukan sesuatu yang tepat dengan kondisi tersebut.

Kematangan emosi yaitu kemampuan menerima hal-hal negatif dari lingkungan tanpa membalasnya dengan sikap yang negatif pula, melainkan dengan kebijakan. Maksudnya adalah jika seseorang menemui situasi negatif orang tersebut tidak lantas membalas dengan emosi yang negatif, tetapi ia akan menelaah dan memikirkan reaksi yang akan dikeluarkan agar tidak berdampak negatif pula sehingga emosi yang keluar adalah kebijakan.

Kematangan emosi didapat jika kita menyadari sepenuhnya emosi yang ada dalam diri kita dan bagaimana mengeluarkannya. Orang yang memiliki kematangan emosi akan menjadi tuan atas emosinya, maksudnya, ia akan mengatur emosi apa yang hendak dikeluarkannya. Sebagai contoh, ketika melihat anak kita mencuri. Kita menyadari ada sebuah prinsip yang dilanggar, lalu kita menjadi marah kepada anak. Maka kemarahan ini termasuk perilaku yang cerdas, karena telah disadari. Artinya, ada alasan yang jelas mengapa marah itu muncul.

Seseorang dikatakan mencapai kematangan emosional, bilamana dia menunjukkan indikasi sebagai berikut:

  1. Dia tidak meledak didepan orang banyak, karena dapat menahan emosi-emosinya.
  2. Dia mempertimbangkan dengan kritis terlebih dahulu suatu situasi sebelum memberikan reaksi yang dikuasai oleh emosi-emosinya.
  3. Dia lebih stabil dalam pemberian reaksi terhadap salah satu bentuk emosi yang dialami.

Emosi pada dasarnya dapat dikendalikan, sehingga seseorang tidak sampai kehidupannya dikuasai oleh emosi, bahkan sebaliknya memanfaatkan emosi untuk kegiatan yang positif. Untuk itulah diperlukan kematangan emosi.

Kematangan emosi menurut Wolman sebagai kondisi yang ditandai oleh perkembangan emosi dan pemunculan perilaku yang tepat sesuai dengan tingkat kedewasaan usia39 semakin bertambah dewasa usia individu diharapkan Ia semakin objektif dalam merespon stimuli, apa pun bentuknya, ia semakin mampu membedakan antara perasaan dan kenyataan, mampu bertindak atas dasar fakta dari pada perasaan.

Caplin berpendapat bahwa emotional maturity adalah suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi dan karena itu yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pola emosional yang tidak pantas.

Hurlock mengemukakan terdapat tiga kriteria seseorang dikatakan matang emosinya, yaitu: (1) dapat melakukan kontrol diri yang dapat diterima oleh lingkungan sosialnya; (2) mampu memahami dirinya sehingga mengetahui seberapa besar upaya untuk mengontrol emosi yang dibutuhkan demi memuaskan kebutuhannya yang diterima oleh masyarakat sekitar; dan (3) mampu menggunakan kemampuan kritis mental, yakni kemampuan seseorang untuk menilai suatu respon secara kritis baru meresponnya.

Smith mendefinisikan kematangan emosi mengkaitkan dengan karakteristik orang yang berkepribadian matang. Orang yang demikian mampu mengekspresikan rasa cinta dan takutnya secara cepat dan spontan silabus.web.id. Sedangkan pribadi yang tidak matang memiliki kebiasaan menghambat perasaan-perasaannya, sehingga dapat dikatakan pribadi yang matang dapat menggerakkan energi emosi ke aktivitas-aktivitas yang sifatnya kreatif dan produktif.

Feinberg mengklasifikasi ada beberapa karakteristik atau tanda mengenai kematangan emosi seseorang, yaitu kemampuan seseorang untuk: (1) dapat menerima diri sendiri; (2) menghargai orang lain; (3) menerima tanggung jawab; (4) percaya pada diri sendiri; dan (5) sabar serta mempunyai rasa humor. Rajakumar dan Soundararajan mendeskripsikan karakteristik seseorang yang memiliki kematang emosi sebagai berikut:

  1. Manifestation of emotions is very much refined. Usually he expresses his emotions in a sosially desirable way.
  2. He is able exercise control over his emotions. Sudden inappropriate emotional outbursts are rarely found in him.
  3. He is able to hide his feelings and check his emotional tide.
  4. The person perceives things in their real perspective. He is not a daydreamer and does not possess the desire to run away from realities.
  5. His intellectual powers like thinking and reasoning are properly exercised by him in making any decision. He is guided more by his intellect than his emotions.
  6. He does not possess the habit of rationalization i e he never argues in defense of his undesirable or improper conduct.
  7. Also he never shifts the responsibility of his mistakes on others.
  8. He is always honest in his behaviour.
  9. He possesses adequate self-concept and self-respect. He never likes to do things or show such behaviour that can injure his self-respect and is adverse to his ideals.
  10. He is not confined to himself. He thinks about others and is keen to maintain sosial relationships. He never engages himself in such behaviour as is antisosial and can result in sosial conflicts and strain his sosial relationship.
  11. He can exercise his emotions at a proper time in a proper place.
  12. Matured emotional behaviour is characterized by greater stability. A person having such maturity does not sudden shift from one emotion to another.

Berdasarkan pendapat tersebut karakteristik kematangan emosi seseorang adalah sebagai berikut:

  1. Manifestasi emosi yang sangat halus. Biasanya ia mengungkapkan emosinya dengan cara yang secara sosial diinginkan.
  2. Dia mampu mengontrol emosinya. Ledakan emosional yang tidak pantas jarang ditemukan dalam dirinya.
  3. Dia mampu menyembunyikan perasaannya dan mampu memeriksa turun-naik emosionalnya.
  4. Orang lain merasakan bahwa pikiran-pikiran mereka berada dalam perspektif riil mereka. Dia tidak suka menghayal dan tidak memiliki keinginan untuk melarikan diri dari kenyataan.
  5. Kekuatan intelektual–seperti berpikir dan penalaran yang benar— dilakukan olehnya dalam membuat keputusan apapun. Dia dikendalikan oleh akal ketimbang emosinya.
  6. Dia tidak memiliki kebiasaan rasionalisasi, ia tidak pernah berpendapat dalam membela tindakannya yang tidak diinginkan atau tidak layak.
  7. Ia tidak pernah melimpahkan tanggung jawab kesalahannya pada orang lain.
  8. Dia selalu jujur dalam perilakunya.
  9. Dia memiliki konsep diri dan harga diri yang memadai.
  10. Dia tidak pernah suka melakukan hal-hal atau menunjukkan perilaku seperti yang bisa melukai dirinya menghormati dan merugikan citacitanya.
  11. Dia tidak terbatas pada dirinya sendiri. Dia berpikir tentang orang lain dan tertarik untuk mempertahankan hubungan sosial. Dia tidak pernah terlibat dalam perilaku dirinya seperti yang anti sosial dan yang dapat mengakibatkan konflik sosial serta ketegangan hubungan sosialnya.
  12. Ia dapat melatih emosinya pada waktuyang tepatdi tempatyang tepat.
  13. Perilaku emosional matang ditandai dengan stabilitas yang lebih besar. Seseorang yang memiliki kematangan emosi seperti itu tidak mudah mengalami pergeseran secara tiba-tiba dari satu emosi ke emosi yang lain.

Ciri-ciri orang yang memiliki kematangan emosi antara lain adalah:

  1. Kemampuan untuk merespon secara berbeda-beda dalam kaitannya dengan kebutuhan dan faktor-faktor di luar dirinya yang terlibat dalam situasi tertentu.
  2. Kemampuan menyalurkan tekanan-tekanan impuls dan emosi-emosi dalam bentuk prilaku yang konstruktif serta dapat mengarahkannya ke arah tujuan yang positif.
  3. Kemampuan membangun pola hubungan interdepensi dan mampu memelihara peran-perannya secara fleksibel.
  4. Kemampuan memperkaya ketrampilan dan memahami potensi-potensi dan keterbatasan-keterbatasannya sendiri, serta mencari penyelesaian atas problem-problemnya secara kreatif dan mendapat persetujuan dari orang lain.
  5. Kemampuan untuk berhubungan secara efektif dengan orang lain, juga mampu memandang dirinya dengan orang lain dengan rasa hormat.
  6. Kemampuan mempertimbangkan dan memulai alternatif-alternatif, konsekuensi-konsekuensi dari pelakunya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, karakteristik seseorang yang memiliki kematangan emosi dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  1. Dapat menerima diri sendiri
  2. Mampu mengontrol emosinya yang diterima lingkungan sosialnya
  3. Menghargai orang lain
  4. Menerima tanggung jawab, tidak melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain
  5. Tidak pernah merasionalisasi kegagalan
  6. Mempunyai konsep diri yang jelas
  7. Percaya pada diri sendiri
  8. Sabar
  9. Mempunyai rasa humor
  10. Jujur
  11. Mampu menyembunyikan emosi, stabil, tidak mudah meledak-ledak
  12. Realistis, tidak suka lari dari kenyataan
  13. Kritis dalam menilai stumuli dan dalam merespon, lebih dikendalikan oleh akal dari pada emosi.
  14. Dapat menampilkan emosinya pada waktu dan tempat yang tepat

Literasi

Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Ilmu Psikologi (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang,1985), hlm. 68.

Maramis, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm 342, hlm. 133.

Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikogi UGM, 1986.), hlm. 133.

Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan: Masa Remaja (Surabaya: Usaha Nasional,1989), hlm. 212.

Endah Puspita Sari, “Penerimaan Diri pada Lansia Usia Ditinjau dari Kematangan Emosi.”Jurnal Psikologi No 2, 73-88 (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2002), hlm. 33.

Caplin, J.P., Kamus Lengkap Psikologi.Terj. Kartini Kartono (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001).

Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi 5, (Jakarta: Erlangga, 1999). hlm.47.

Sari, Endah Puspita, “Penerimaan Diri pada Usia Lansia Ditinjau dari Kematangan Emosi,”Jurnal Psikologi No 2, 73-88, (Yogyakarta; Universitas Gajah Mada, 2002). hlm. 34.

Rajakumar, M. and Soundararajan, M., “A Study on Higher Secondary Students’ Emotional Maturity and Achievement In Economics In Tirunelveli District”International Journal Of Research In Education Methodology Council For Innovative Research Vol. 1, No. 2 August 2012.

Banyak yang baca