Pengertian bullying Verbal
Dalam kehidupan sehari-hati kita sering kali mendengar kata bullying tetapi kebanyakan dari kita salah dalam mengartikan kata bullying tersebut. Seperti halnya berperilaku, terkadang kita melakukan sesuatu yang dianggap merupakan hal yang sepele, padahal perilaku tersebut masuk ke dalam kategori bullying. Untuk itu perlu kiranya kita mengerti tentang pengertian bullying.
Menurut olweus yang dikutip oleh Kathryn Geldard bullying adalah perilaku atau tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja, oleh seseorang atau sekelompok orang, dari waktu waktu ke waktu yang dilakukan secara berulang-ulang, terhadap seseorang yang tidak dapat mempertahankan dirinya.1 sementara Sharp and Smith mengartikan bullying sebagai sebuah kekuatan secara sistematik atau penyalahgunaan kekuasaan. David Goodwin mendefinisikan bullying dapat dilakukan oleh individu atau kelompok, yang dilakukan dengan tujuan maupun tanpa tujuan, kepada seseorang yang lebih lemah atau yang memiliki kekuatan lebih rendah daripada dirinya, dan terjadi berulang-ulang.3 dari beberapa pengertian menurut tokoh di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bullying adalah perilaku atau tindakan yang tidak menyenangkan, yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok kepada orang yang lebih lemah, dan terjadi secara berulang-ulang.
Sementara bullying verbal adalah bullying dalam bentuk kata-kata untuk menindas orang lain. Bentuk bullying ini merupakan bentuk paling umum dan mudah digunakan untuk menindas seseorang. Perilaku yang termasuk kedalam bullying verbal adalah menghina, memberikan julukan yang negatif, mengolok-ngolok, merendahkan mempermalukan, bersifat rasis, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual.
Upaya Menangani Bullying
Menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi bullying meliputi program pencegahan dan penanganan menggunakan intervensi pemulihan sosial (rehabilitasi).
a. Pencegahan
Dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, dimulai dari anak, keluarga, sekolah dan masyarakat.
1) Pencegahan melalui anak dengan melakukan pemberdayaan pada anak agar :
- Anak mampu mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya bullying
- Anak mampu melawan ketika terjadi bullying pada dirinya
- Anak mampu memberikan bantuan ketika melihat bullying terjadi (melerai/mendamaikan, mendukung teman dengan mengembalikan kepercayaan, melaporkan kepada pihak sekolah, orang tua, tokoh masyarakat)
2) Pencegahan melalui keluarga, dengan meningkatkan ketahanan keluarga dan memperkuat pola pengasuhan. Antara lain :
- Menanamkan nilai-nilai keagamaan dan mengajarkan cinta kasih antar sesama
- Memberikan lingkungan yang penuh kasih sayang sejak dini dengan memperlihatkan cara beinterakasi antar anggota keluarga.
- Membangun rasa percaya diri anak, memupuk keberanian dan ketegasan anak serta mengembangkan kemampuan anak untuk bersosialiasi
- Mengajarkan etika terhadap sesama (menumbuhkan kepedulian dan sikap menghargai), berikan teguran mendidik jika anak melakukan kesalahan
- Mendampingi anak dalam menyerap informasi utamanya dari media televisi, internet dan media elektronik lainnya.
3) Pencegahan melalui sekolah
- Merancang dan membuat desain program pencegahan yang berisikan pesan kepada murid bahwa perilaku bully tidak diterima di sekolah dan membuat kebijakan “anti bullying”.
- Membangun komunikasi efektif antara guru dan murid
- Diskusi dan ceramah mengenai perilaku bully di sekolah
- Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan kondusif.
- Menyediakan bantuan kepada murid yang menjadi korban bully.
- Melakukan pertemuan berkala dengan orangtua atau komite sekolah
4) Pencegahan melalui masyarakat dengan membangun kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dimulai dari tingkat desa/kampung (Perlindungan Anak Terintegrasi Berbasis Masyarakat : PATBM).
b. Penanganan menggunakan intervensi pemulihan sosial (rehabilitasi)
Merupakan proses intervensi yang memberikan gambaran yang jelas kepada pembully bahwa tingkah laku bully adalah tingkah laku yang tidak bisa dibiarkan berlaku di sekolah.
Pendekatan pemulihan dilakukan dengan mengintegrasikan kembali murid yang menjadi korban bullying dan murid yang telah melakukan tindakan agresif (bullying) bersama dengan komunitas murid lainnya ke dalam komunitas sekolah supaya menjadi murid yang mempunyai daya tahan dan menjadi anggota komunitas sekolah yang patuh dan berpegang teguh pada peraturan dan nilai-nilai yang berlaku.
Program pendekatan pemulihan sosial ini mempunyai nilai utama yaitu penghormatan, pertimbangan dan partisipasi. Prinsip yang digunakan adalah :
- Mengharapkan yang terbaik dari orang lain
- Bertanggungjawab terhadap tingkah laku dan menghargai perasaan orang lain
- Bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan
- Peduli kepada orang lain
Faktor-faktor Bullying
Menurut Goodwin, mengemukakan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang memiliki perilaku bullying. Ada 3 faktor yang menyebabkan perilaku bullying di antaranya:
Hubungan
Perilaku dan berbagai nilai yang ditunjukkan oleh anggota keluarga dalam keseharian akan ditiru oleh anak. Sehingga seorang anak akan berperilaku seperti yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya. Dalam hal ini jika anggota keluarga menunjukkan perilaku-perilaku yang agresif atau melakukan tindakan bullying maka anak suatu saat akan meniru perilaku tersebut dan akan melakukan tindakan bullying di kemudian hari.
Teman sebaya
Selain anggota keluarga teman sebaya merupakan salah satu faktor terbesar seseorang melakukan tindakan bullying. Ketika seorang anak sudah mulai memasuki masa remaja, ia tidak lagi bergantung kepada keluarga, melainkan berusaha mencari dukungan kepada teman sebayanya. Jika teman sebayanya memberikan pengaruh yang negatif seperti melakukan tindakan bullying maka suatu saat remaja itu juga akan melakukan hal yang sama agar mendapat dukungan dari teman sebayanya.
Pengaruh
Sekarang ini media elektronik seperti televisi radio banyak mencontohkan perilaku yang negatif kepada anak. Selain media elektronik sekarang ini juga berkembang media sosial seperti, Facebook, Twitter dan Instagram yang bisa diakses oleh siapapun termasuk anak dan remaja. Sayangnya tidak semua konten yang ada di media sosial bersifat positif banyak juga konten-konten yang bersifat negatif, sehingga anak maupun remaja yang melihat hal tersebut akan menirukannya di dunia nyata.
Penyebab Anak Menjadi Sasaran Bullying
David Goodwin menjelaskan banyak hal yang bisa menyebabkan anak menjadi sasaran bullying. Penyebab tersebut adalah:
a. Tidak Percaya Diri.
Anak-anak yang pendiam, pemalu dan tidak percaya diri seringkali menjadi korban bullying. Hal ini disebabkan karena anak yang tidak percaya diri biasanya tidak mempunyai keberanian untuk melawan ketika orang lain melakukan tindakan bullying kepadanya. Sehingga anak yang melakukan bullying akan terus mengulangi perbuatannya.
b. Tidak Memiliki Teman.
Anak yang tidak memiliki teman juga sangat rentan menjadi korban bullying, tidak akan mendapat bantuan atau dukungan ketika dia menerima tindakan bullying. Anak-anak yang tidak memiliki teman biasanya merupakan anak baru pindahan dari sekolah lain, anggota baru dalam suatu kelompok maupun anak-anak yang sulit dalam bersosialisasi terhadap lingkungannya. Untuk itu memiliki seorang teman atau sahabat akan sangat membantu anak dalam meningkatkan kemampuan interpersonalnya, anak juga akan merasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri
c. Korban Yang Memprovokasi.
Maksud dari korban yang memprovokasi adalah mereka yang dahulunya korban bullying menjadi pelaku bullying. Anak-anak yang seperti ini biasanya memiliki sifat yang impulsif dan tidak memiliki kemampuan sosial yang baik. Sehingga ketika anak tersebut menjadi korban bullying dia akan berusaha untuk melakukan bullying atau menjadi pelaku bullying kepada anak lain.
d. Mentalitas Sebagai Korban
ketika anak menjadi korban bullying anak merasa bahwa mereka pantas mendapatkan perilaku tersebut. Hal itu menyebabkan anak merasa tidak perlu melakukan pembelaan atau melawan ketika mendapatkan tindakan bullying. Sehingga para pelaku bullying akan tetap melakukan bullying terhadapnya.
e. Merasa Diri Tidak Berharga
Anak yang merasa dirinya tidak berharga akan selalu menyalahkan dirinya sendiri ketika sesuatu yang salah terjadi, hal tersebut menjadikannya sangat rentan menjadi korban bullying. Sebaliknya ketika anak merasa berharga maka kemungkinan kecil anak menjadi korban bullying. Perasaan berharga ini didapatkan oleh anak dari lingkungan sekitarnya seperti keluarga, guru, dan juga teman- temannya.
f. Meyakini Diri Berbeda Dibandingkan Teman Lainnya
Anak yang berbeda seringkali menjadi korban pelaku bullying. Akan bisa bertambah parah jika anak tersebut meyakini bahwa mereka berbeda dengan teman sebayanya. Akan tetapi, berbeda halnya dengan anak yang nyaman dengan perbedaan yang ia miliki, mereka akan menunjukkan perbedaan tersebut sebagai kelebihan mereka, sehingga menghindarkan mereka menjadi korban bullying.
Dampak Perilaku Bullying
a. Pelaku Bullying
Dampak negatif untuk pelaku tindakan bullying akan menimnulkan watak yang keras dan meningkatnya kepercayaan diri yang terlalu tinggi, merasa memiliki kekuasaan sehingga nantinya para pelaku tidak memiliki empati kepada orang lain dan tingkat emosional yang tinggi ketika apa yang diinginkannya tidak tercapai. Dengan demikian mereka menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan mereka. Tindakan bullying dapat berpengaruh dalam kehidupan pelaku bullying sendiri, seperti pelaku dapat dijauhi, dibenci, susah mendapatkan teman, bahkan dalam jangka panjangnya pelaku bullying dapat mengarah dan terlibat dalam tindakan-tindakan kriminal serta sulit untuk beradaptasi dengan teman-teman kerja karena sulit untuk mengontrol dirinya. Dengan demikian para pelaku bullying akan merasa diasingkan oleh orang-orang disekitarnya akibat ulahnya sendiri, sehingga nantinya para pelaku tersebut menjadi menyesal atas perbuatan yang pernah dilakukannya pada masa lalu.
b. Korban Bullying
Selain berdampak negatif bagi pelaku bullying, para korban tentunya juga mendapatkan dampak yang negatif dan mungkin lebih parah lagi. Terdapat kasus tindakan atau percobaan bunuh diri dikalangan remaja akibat bullying. Tentunya bukan hanya percobaan bunuh diri yang menjadi dampak negatif dari bullying. Banyak korban bullying yang hidup dengan menahan luka batin dan kemungkinan besar akan menderita depresi dan kurang percaya diri dalam masa dewasanya nanti. Dengan kata lain, nantinya korban bullying akan terus menerus mengingat semua perlakuan yang pernah dialaminya pada masa lalu,sehingga dapat menyimpan rasa sakit hati, kecewa dan dendam kepada pelaku bullying tersebut. Jika hal ini didiamkan dan masih dianggap remeh, bukan tidak mungkin akan berdampak buruk bagi psikologis dari korban itu sendiri. Pencegahan bullying adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk mencegah bullying tidak terjadi. Tidak bisa dipungkiri bullying merupakan permasalah yang saat ini marak sekali terjadi. Seperti yang telah dijelaskan di atas banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bullying. Agar bullying tidak semakin marak, maka perlu adanya pencegahan yang dilakukan oleh berbagai pihak.
Pustaka
Goodwin, David. (2009). Strategies to Deal with Bullying. North Richmond, NSW: Kidsreach Inc. hal. 19,51-52, 38-43
Geldard, Kathryn. 2012. Konseling Remaja Intervensi Praktis Bagi Remaja Beresiko. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal.171