Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam proses interaksi pendidik harus memahami segala aspek pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini yang dihadapinya. Karena dengan memperhatikan pemahaman pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, pendidik dapat menyesuaikan segala bentuk ucapan, sikap dan tindakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan serta perkembangan anak usia dini. Dalam kesempatan ini pendidik sekaligus mengarahkan anak bisa membangun kecerdasan moral yang akan menjadi otot kuat yang diperlukan untuk melawan tekanan buruk dan membekali anak untuk mempunyai kemampuan bertindak benar tanpa bantuan orang lain. Kecerdasan moral harus mulai dibangun sejak anak usia dini. Meski pada usia tersebut anak belum mempunyai kemampuan kognitif untuk melakukan penalaran moral yang cukup kompleks, pada saat itulah dasar-dasar kebiasaan moral mulai dipelajari. Pendidikan kecerdasan moral terbangun dari tujuh kebajikan utama yaitu: empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan. Semua itu dapat dipercontohkan, disadarkan serta didorong sehingga dapat dicapai anak. Pendidikan kecerdasan moral memberikan cetak biru langkah demi langkah untuk meningkatkan kapasitas moral anak berdasarkan prinsip-prinsip etika dari tujuh kebajikan utama yang akan menjaga sikap baik seumur hidup pada anak usia dini adalah:

  1. Empati merupakan inti emosi moral yang membantu anak memahami perasaan orang lain. Kebajikan ini membuat anak menjadi peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain, mendorongnya menolong orang yang kesusahan atau kesakitan, serta menuntutnya memperlakukan orang dengan kasih sayang.
  2. Hati nurani adalah suara hati yang membantu anak memilih jalan yang benar daripada jalan yang salah serta tetap berada di jalur bermoral, membuat dirinya bersalah ketikan menyimpang dari jalur yang semestinya. Kebajikan ini merupakan fondasi bagi perkembangan sifat jujur, tanggung jawab, dan integritas yang tinggi.
  3. Kontrol diri membantu anak menahan dorongan dari dalam dirinya dan berpikir sebelum bertindak, sehingga anak melakukan hal yang benar dan kecil kemungkinan mengambil tindakan yang akan menimbulkan akibat buruk. Kebajikan ini membantu anak menjadi mandiri karena bisa mengendalikan tindakannya sendiri. Sifat ini membangkitkan sikap murah dan baik hati.
  4. Rasa hormat mendorong anak bersikap baik dan menghormati orang lain. Kebajikan ini mengarahkan anak tidak bertindak kasar, tidak adil dan bersikap memusuhi. Jika anak terbiasa bersikap hormat terhadap orang lain, anak akan memperhatikan hak-hak serta perasaan orang lain, akibatnya anak juga akan menghormati diri sendiri.
  5. Kebaikan hati membantu untuk mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan dan perasaan orang lain. Anak punya rasa belas kasihan dan tidak terlalu memikirkan diri sendiri, serta menyadari perbuatan baik sebagai tindakan yang benar.
  6. Toleransi membuat anak mampu menghargai perbedaan kualitas dalam diri orang lain, membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru, dan menghargai orang lain tanpa membedakan suku, gender, penampilan, budaya, kepercayaan, kemampuan atau orientasi seksual.
  7. Keadilan menuntun agar anak memperlakukan orang lain dengan baik, tidak memihak dan adil sehingga anak mematuhi aturan, mau bergiliran dan berbagi, serta mendengar semua pihak secara terbuka sebelum memberi penilaian apa pun.
Banyak yang baca