Situasi pandemi merupakan situasi yang tidak biasa. Aktivitas kehidupan manusia mengalami perubahan yang sangat drastis. Hal ini berdampak pada dunia pendidikan. Layanan pendidikan pun tidak dapat dilakukan dengan cara-cara yang biasa. Bukan hanya dalam pembelajaran, pandemi menyebabkan layanan pendidikan secara keseluruhan harus dilakukan dengan cara berbeda dan tidak biasa.
Oleh karena itu, satuan pendidikan perlu melakukan inovasi terhadap layanan pendidikan secara menyeluruh bahkan sarana dan prasarana sekolah. Mulai dari aspek suasana belajar yang berbeda, proses pembelajaran yang berbeda, serta tata kelola yang berbeda. Semua itu menuntut manajemen pengelolaan yang berbeda dan membutuhkan beragam inovasi.
Manajemen pendidikan di masa pandemi membutuhkan inovasi dan kreativitas untuk dapat memberikan variasi layanan pendidikan kepada peserta didik agar proses pendidikan
tetap dapat berjalan secara optimal. Dengan demikian, prinsip manajemen berbasis sekolah menjadi pijakan yang kuat bagi satuan pendidikan dalam memberikan layanan pendidikan di masa pandemi secara optimal.
Faktor Sarana dan Prasarana
Sarana prasarana pendidikan dibutuhkan untuk menunjang proses pendidikan. Sarana prasarana di satuan pendidikan harus sesuai dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan sekolah. Keberadaan sarana prasarana juga menjadi jalan untuk pencapaian tujuan pendidikan dan agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien.
Di masa pandemi dan kebiasaan baru optimalisasi sarana prasarana pembelajaran berbeda fungsi dan kebermanfaatannya. Oleh karena itu, satuan pendidikan harus mampu mengoptimalkan fungsi sarana prasarana, termasuk melakukan penyesuaian dan bahkan penambahan sarana yang dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran.
Di masa pandemi, sarana prasarana pembelajaran yang harus diperhatikan dibagi menjadi dua kategori, yakni sarana prasarana pada pelaksanaan pembelajaran dari rumah dan sarana prasarana pembelajaran masa kebiasaan baru. Pada kedua kondisi tersebut kebutuhan sarana dan prasarana yang berbeda dengan kebutuhan di saat pelaksanaan pembelajaran normal.
Kebutuhan sarana prasarana pada pelaksanaan pembelajaran dari rumah lebih fokus pada sarana berupa alat komunikasi, gawai, dan penunjang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sementara pada pembelajaran masa kebiasaan baru lebih fokus pada sarana penunjang kesehatan warga sekolah.
Di masa pandemi, kebutuhan sarana prasarana pendidikan sangat berbeda jauh dengan saat kondisi normal. Penyesuaian pendukung proses pembelajaran mengalami penambahan
bahkan pengayaan dalam beberapa bidang. Tak hanya terkait sarana prasarana penunjang yang bersifat fisik, tetapi juga sarana pendukung berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
SARANA, PRASARANA DAN APLIKASI
Kebutuhan sarana prasarana pada masa pandemi bisa dibedakan pada dua kategori. Yakni kebutuhan pada saat pembelajaran dengan konsep belajar dari rumah dan pembelajaran di masa kebiasaan baru. Untuk pembelajaran dengan kedua konsep tersebut juga dibutuhkan dukungan aplikasi berbasis digital.
a. Sarana Prasarana Pembelajaran dari Rumah
Sesuai zamannya, pembelajaran dari rumah akan lebih optimal apabila memanfaatkan sarana prasarana digital.
Sarana prasarana yang dibutuhkan antara lain:
- Ketersediaan gawai yang memadai yang sifatnya personal, wajib dimiliki oleh semua orang yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran yaitu guru dan peserta
didik. Contohnya seperti smartphone atau laptop/PC. - Kuota internet untuk mengakses pembelajaran dalam jaringan.
- Dukungan jaringan sinyal dan infrastruktur telekomunikasi yang merata.
Tantangan yang dihadapi dala pembelajaran dari rumah antara lain:
- Tidak semua peserta didik memiliki smartphone;
- Kemampuan membeli kuota internet masyarakat tidak sama;
- Ketidakmampuan ekonomi ini menjadi kondisi umum, tak hanya di pedesaan tetapi juga di perkotaan;
- Literasi digital yang masih terbatas;
- Jaringan infrastruktur telekomunikasi (internet) belum merata di seluruh kawasan Indonesia.
b. Sarana Prasarana Pembelajaran Masa Kebiasaan Baru
Sejalan dengan perkembangan pandemi khususnya Covid-19 yang masih berlangsung, pemerintah melalui Kemendikbud memperkenankan sekolah di zona hijau untuk melaksanakan
pembelajaran tatap muka langsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Acuan yang menjadi landasan kebijakan tersebut adalah Keputusan Bersama Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021
dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Covid-19. Fokus sarana prasarana di masa kebiasaan baru adalah:
- Alat-alat kebersihan yang tersedia secara lengkap. Sekolah harus menyediakan semua alat-alat kebersihan untuk memastikan kelas selalu dalam keadaan steril.
Seperti alat pel atau pun vacuum cleaner agar semua kotoran dapat dibersihkan dengan cepat dan berkala; - Sanitasi sekolah yang baik, mulai dari ketersediaan air bersih, buangan air kotor, toilet, tempat cuci tangan, dan pengelolaan sampah.
- Wastafel harus tersedia di berbagai tempat agar peserta didik dan guru bisa dengan mudah mencuci tangan dengan sabun;
- Alat kesehatan selengkap mungkin untuk mengantisipasi warga sekolah yang sakit.
- Karena kontak fisik sangat tidak dianjurkan, sekolah juga membutuhkan APD untuk keadaan darurat
- Ruang kelas steril sesuai regulasi. Semua kelas harus disterilkan dengan desinfektan sebelum digunakan;
- Ruang kelas lebih banyak untuk menghindari penyebaran Covid-19. Daya tampung yang dianjurkan oleh pemerintah adalah 50 persen per kelas;
- Loker pribadi dan rak sepatu khusus. Fasilitas lemari atau loker dimaksudkan ntuk mengantisipasi pola penyebaran virus Covid-19 yang masih belum bisa dipastikan. Anjuran lain yang harus diperhatikan adalah larangan memakai sepatu atau alas kaki di dalam kelas. Oleh sebab itu, sekolah juga harus menyediakan rak sepatu untuk para peserta didik dan guru dengan jumlah yang memadai;
- Tenaga kesehatan sekolah. Sekolah harus menyediakan tenaga kesehatan untuk situasi darurat serta untuk kepentingan edukasi. Pada masa pandemi, semua tindakan
harus dilakukan sesuai standar kesehatan yang tepat; - Alat cek suhu badan. Alat untuk memeriksa suhu badan atau thermo gun harus disediakan oleh sekolah. Alat ini adalah instrumen protokol kesehatan wajib
ada di sekolah. Semua orang harus diperiksa terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk ke dalam gedung atau lingkungan sekolah. - Kantin sehat yang menyediakan makanan sehat, bersih, higienis, dan bergizi.
Aplikasi Pembelajaran
Dengan metode pembelajaran jarak jauh, pembelajaran berbasis aplikasi sangat dibutuhkan untuk mendukung peserta didik dan guru. Karena itu, sekolah memiliki keleluasaan untuk mengembangkan aplikasi pembelajaran sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan. Meski demikian, untuk memudahkan peserta didik dan guru melaksanakan proses pembelajaran, Kemendikbud RI mengembangkan aplikasi pembelajaran Rumah Belajar. Layanan gratis yang bisa diakses melalui laman https:// belajar.kemdikbud.go. id/ ini merupakan aplikasi belajar daring yang dikembangkan oleh Kemendikbud dengan tujuan untuk menyediakan alternatif sumber belajar dengan pemanfaatan teknologi.
Terdapat berbagai fitur seperti Sumber Belajar, Laboratorium Maya, Kelas Digital, Bank Soal, Buku Sekolah Elektronik, Peta Budaya, Karya Bahasa dan Sastra, serta fitur lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik secara gratis. Selain mengembangkan aplikasi pembelajaran sendiri, Kemendikbud juga menjalin kerja sama berbagai platform menyediakan aplikasi pembelajaran dalam jaringan. Hal ini tentu akan memperkaya referensi bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran berbasi aplikasi.
Berikut beberapa aplikasi yang banyak digunakan oleh satuan pendidikan.
MejaKita, IndonesiaX, Google for Education, Kelas Pintar, Quipper School, Ruangguru, Sekolahmu, Zenius, Cisco Webex
LAYANAN SUMBER BELAJAR DIGITAL
Pengembangan layanan sumber belajar berbasis digital, bukan hal baru bagi Kemendikbud. Jauh sebelum adanya pandemi, melalui laman pembelajaran
https:// belajar.kemdikbud.go. id/ yang dikembangkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), inovasi pembelajaran era industri 4.0 telah diluncurkan. Sumber belajar digital ini memberikan layanan bagi jenjang pendidikan PAUD hingga SMA, baik bagi guru maupun peserta didik.
Kebermanfaatan sumber belajar ini pun makin terasa di saat pandemi Covid-19, pembelajaran dilakukan dari rumah. Sebagaimana prinsip Rumah Belajar, siapa pun dapat belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Jadi, keterbatasan sumber ajar bukan lagi alasan bagi satuan pendidikan saat harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Terlebih seluruh konten yang ada di Rumah Belajar dapat diakses dan dimanfaatkan secara gratis. Sejauh ini guru yang bergabung sebagai pengguna Rumah Belajar tercatat sebanyak 266.045 guru dan peserta didik mencapai 640.874 peserta didik.
Berikut fitur utama rumah belajar:
- Kelas Maya.
Sebuah Learning Management System (LMS) yang dikembangkan khusus untuk memfasilitasi proses pembelajaran virtual antara guru dan peserta didik. Fitur ini
memungkinkan guru dapat memberikan bahan ajar yang dapat diakses dan dibagikan oleh peserta didik dalam bentuk digital kapan saja dan di mana saja. - Sumber belajar
Fitur yang menyajikan materi ajar bagi peserta didik dan guru berdasarkan kurikulum. Materi ajar disajikan secara terstruktur dengan tampilan yang menarik dalam bentuk gambar, video, animasi, simulasi, evaluasi, dan permainan. - Laboratorium Maya
Fitur simulasi praktikum laboratorium yang ada disajikan secara interaktif dan menarik, dikemas bersama lembar kerja peserta didik dan teori praktikum. - Bank Soal
Fitur kumpulan soal dan materi evaluasi peserta didik yang dikelompokkan berdasarkan topik ajar. Tersedia juga berbagai akses soal latihan, ulangan, dan ujian. - Fitur Pendukung:
Peta Budaya, Buku Sekolah Elektronik, Wahana Jelajah Angkasa, Karya Bahasa dan Sastra, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
Sementara itu, khusus dalam menghadapi kondisi di saat pandemi, berdasarkan Surat Edaran 15 tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa
Darurat Penyebaran Covid-19, Kemendikbud memberikan rekomendasi sumber layanan pembelajaran digital selain Rumah Belajar, yakni:
1. TV edukasi Kemendikbud https:// tve.kemdikbud. go .id/live/
2. Modul Digital SMA http:// gerbangkurikulum.sma.kemdikbud. go. id/e-modul/
3. Tatap muka daring program Sapa Duta Rumah Belajar Pusdatin Kemendikbud pusdatin.webex.com
4. LMS SIAJAR oleh SEAMOLEC-Kemendikbud http:// lms. seamolec .org
5. Guru Berbagi http:// guruberbagi. kemdikbud. go. id
6. Membaca Digital http://aksi. puspendik.kemdikbud .go. id/membacadigital
7. Video Pembelajaran http:// video. kemdikbud.go. id
8. Suara Edukasi Kemendikbud http:// suaraedukasi.kemdikbud. go.id
9. Radio Edukasi Kemendikbud https:// radioedukasi.kemdikbud. go.id/
10. Buku Sekolah Elektronik http:// bse. kemdikbud. go.id
11. Mobile Edukasi Bahan Ajar Multimedia https:// m-edukasi.kemdikbud. go. id/medukasi/
12. Sumber bahan SMA https:// sumberbelajar. seamolec. org
13. Kelas daring untuk peserta didik dan Mahasiswa http:// elearning. seamolec. org/
14. Repositori Institusi Kemendikbud http:// repositori. kemdikbud.go. id
15. Jurnal daring Kemendikbud https:// perpustakaan.kemdikbud.go. id/jurnalkemendikbud
16. Buku digital “open-access” http:// pustakadigital.kemdikbud.go. id
17. EPERPUSDIKBUD (Google Play) http://bit. ly/eperpusdikbud
PERPUSTAKAAN DIGITAL
Perpustakaan digital yang merupakan wujud pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, menjadi sarana untuk mendapatkan, menyimpan, dan menyebarkan info-info ilmu pengetahuan dalam bentuk digital sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti masa pandemi ini. Di masa pandemi, dengan beragam peraturan seperti pembatasan fisik dan sosial, vkeberadaan perpusatkaan digital memiliki peran strategis. Referensi dan bahan bacaan dari perpustakaan digital tentu saja dapat diakses dengan leluasa tanpa perlu datang langsung ke gedung atau bangunan perpustakaan.Di lingkungan Kemdikbud, perpustakaan digital yang tersedia antara lain:
- Pustaka Digital di laman https:// pustaka-digital.kemdikbud .go. id/slims/
- Bahasa dan Sastra di laman https:// belajar.kemdikbud. go. id/BahasaSastra, dan juga
- Pustaka Maya (Kamaya) di laman https:// psbsekolah.kemdikbud. go. id/pustaka_maya.html.
Sebagai pusat sumber belajar sekolah, Kamaya merupakan layanan perpustakaan digital dengan berbagai topik bahan bacaan.
Kamaya adalah Katalog Induk Perpustakaan Sekolah Indonesia yang menghimpun data katalog koleksi perpustakaan sekolah yang menggunakan SLiMS (Senayan Library Management System) sebagai sistem automasi perpustakaannya
Kamaya dikembangkan oleh Perpustakaan Kemendikbud bekerja sama dengan Pustekkom (kini Pusdatin) Kemendikbud dan SDC (Senayan Developer Community). Kamaya dapat menjadi sumber informasi dan referensi sekaligus peta perpustakaan sekolah di Indonesia yang telah terautomasi. Saat ini, melalui School Integrated Library System, koleksi Kamaya mencapai 127.482. Selain perpustakaan digital yang dikembangkan Kemdikbud, ada juga dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Untuk melayani
pemustaka, Perpusnas melanggan berbagai bahan perpustakaan digital online (e-Resources) seperti jurnal, ebook, dan karya-karya referensi online lainnya. Layanan perpustakaan digital Perpusnas bisa diakses melalui http://e-resources.perpusnas.go.id/.
LAYANAN LABORATORIUM DIGITAL
Kondisi pandemi yang memaksa pembelajaran di rumah, tentu membuat kegiatan praktikum di laboratorium sekolah juga tak bisa dilaksanakan. Namun demikian, proses pembelajaran praktikum tetap bisa terwujud melalui layanan pembelajaran laboratorium digital. Laboratorium digital telah dirancang Kemendikbud untuk memenuhi proses pembelajaran praktikum bagi peserta didik. Layanan laboratorium tersebut bisa diakses melalui kanal vlab.belajar.kemdikbud.go.id pada portal Rumah Belajar Kemdikbud.
Dengan nama Laboratorium Maya, aplikasi ini merupakan software komputer yang memiliki kemampuan untuk melakukan modeling peralatan komputer secara matematis yang disajikan melalui sebuah simulasi.
Dengan kata lain, Laboratorium Maya adalah bentuk tiruan dari laboratorium klasikal yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran peserta didik. Karena itu, harus digarisbawahi, Laboratorium Maya bukanlah pengganti tetapi bagian dari laboratorium riil yang digunakan untuk melengkapi dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada. Selain alasan pandemi, keberadaan Lab Maya ini bisa menjadi alternatif bagi sekolah yang belum memiliki laboratorium secara fisik. Terlebih, Lab. Maya berisi fitur simulasi praktikum laboratorium interaktif dan menarik, dilengkapi lembar kerja sama dan teori praktikum. Misalnya ada praktikum daya hantar listrik larutan, grafik persamaan kuadrat, dan Hukum Hooke.
Sebagai sumber belajar peserta didik, Laboratorium Maya memiliki beberapa fitur, di antaranya:
- Mengintegrasikan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran;
- Melengkapi dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada pada praktik ruang lab.;
- Memiliki kemampuan modeling dan simulasi untuk memperjelas konsep;
Dalam pembelajaran di Laboratorium Maya, peserta didik dan guru harus memahami prinsisp-prinsip pemanfaatannya:
a. Pemodelan
- Pemodelan sebagai proses untuk membangun representasi. Fungsinya untuk memperbaiki kekurangan pada proses pembelajaran yang mengedepankan metode ceramah dan latihan soal.
- Pemodelan digunakan dengan mengajak peserta didik dalam mendesain secara fisik yang diperlukan dalam proses untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi sebuah fenomena;
b. Simulasi
Layanan simulasi laboratorium maya menyediakan berbagai fitur antara lain:
- Simulasi merupakan program komputer yang mereproduksi fenomena alam melalui visualisasi dari sebuah model.
- Simulasi membantu peserta didik dalam mempelajari model fenomena alam dalam dunia nyata yang memiliki perilaku sistem kompleks.
- Simulasi membantu peserta didik untuk memahami dunia konseptual dari ilmu pengetahuan melalui animasi, yang dapat meningkatkan pemahaman dari konsep ilmiah yang abstrak.