Keterampilan Berbicara Anak TK

Pengertian Keterampilan Berbicara Anak TK

 Keterampilan berbicara terdiri dari dua kata yaitu keterampilan dan berbicara, keduanya memiliki makna masing-masing yang jika digabungkan akan menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami dalam kaitannya dengan peningkatan aspek keterampilan berbicara anak di Taman Kanak-kanak dalam penelitian ini.

Kata keterampilan sama artinya dengan kata kecekatan, terampil atau cekatan adalah kepandaian melakukan suatu pekerjaan dengan cepat dan benar (Soemarjadi, dkk, 1992: 2). Keterampilan adalah “kemampuan anak dalam melakukan berbagai aktivitas seperti motorik, berbahasa, sosial-emosional, kognitif, dan afektif (nilai-nilai moral)” (Yudha M. Saputra dan Rudyanto, 2005: 7).

Keterampilan yang akan dibahas disini adalah keterampilan yang diperuntukkan bagi anak usia Taman Kanak-kanak, sebab masa usia TK merupakan masa emas untuk dilatihkan keterampilannya. Keterampilan yang dipelajari dengan baik akan berkembang menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu adalah kebiasaan yang baik pula.

Selanjutnya, berbicara secara umum dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, gagasan, atau isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain (Suhartono, 2005: 20). Berbicara ialah komunikasi lisan (Idris, dkk, 1998: 11). Selain itu, Henry Guntur Tarigan (2008: 16) berpendapat bahwa bicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi dengan mempergunakan suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalamnya terjadi penyampaian pesan dari suatu sumber kepada sumber lain. Dalam berkomunikasi ada yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud. Agar komunikasi dapat terjalin dengan baik maka perlu ada kerjasama yang baik antara kedua belah pihak.

Berbicara merupakan tuntutan kebutuhan hidup manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia akan berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat utamanya. Berbicara ialah kegiatan berbahasa yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berbicara seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya kepada orang lain secara lisan (Soenardi Djiwandono, 1996: 68).

Berdasarkan pengertian keterampilan dan berbicara di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan ide/gagasan, pikiran, dan perasaan kepada orang lain menggunakan bahasa lisan dengan jelas dan tepat. Berbicara merupakan keterampilan mental motorik karena berbicara tidak hanya melibatkan koordinasi kumpulan otot mekanisme suara yang berbeda, tetapi juga mempunyai aspek mental yakni kemampuan mengaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan (Hurlock, 1978: 176).

Berbicara merupakan keterampilan bagi anak, sehingga berbicara dapat dipelajari dengan beberapa metode yang berbeda. Menurut Hurlock (1978: 183) berbicara dapat diperoleh anak dengan cara: (a) meniru, yaitu mengamati suatu model baik dari teman sebaya maupun dari orang yang lebih tua; dan (b) pelatihan, yaitu dengan bimbingan dari orang dewasa.

Hal penting yang perlu dipersiapkan dalam belajar berbicara adalah: persiapan fisik untuk berbicara, kesiapan mental untuk berbicara, model yang baik untuk ditiru, kesempatan untuk berpraktik, motivasi dan bimbingan (Hurlock, 1978: 203). Dari hal-hal tersebut, pengkondisian anak dalam belajar berbicara harus diperhatikan secara seksama terutama dalam proses pembelajaran di sekolah.

Dalam mewujudkan keterampilan yang baik pada anak TK guru perlu mengetahui kemampuan yang dimiliki pada masing-masing anak. Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki anak, guru akan dapat mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki anak kemudian akan dengan mudah untuk melakukan pengembangan keterampilan pada anak. Perubahan keterampilan pada anak terjadi sebagai akibat dari latihan yang telah dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta pemberian pengalaman tertentu.

Pemberian latihan melalui pengalaman harus dilakukan secara sistematis dan terprogram melalui sebuah model. Model pembelajaran yang dilakukan di TK ini merupakan langkah nyata yang dilakukan guna meningkatkan keterampilan anak secara optimal. Banyak keterampilan anak TK yang harus dikembangkan, namun dalam penelitian ini yang akan dikembangkan adalah keterampilan berbicara.

Jadi, keterampilan berbicara perlu dilatihkan kepada anak sejak dini agar anak dapat mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaannya melalui bahasa lisan. Selain itu, dengan memiliki keterampilan berbicara yang baik akan menjadi kebiasaan yang baik pula bagi anak. Misalnya saja, dengan melatihkan keterampilan berbicara sejak dini anak akan mengetahui cara berbicara yang sopan kepada orang yang lebih tua, anak juga akan memilki lebih banyak kosakata, serta anak dapat menyusun kalimat dan kata yang baik dalam menyampaikan keinginannya kepada orang lain.

Karakteristik Keterampilan Berbicara Anak TK

Pengembangan berbicara anak sangat penting untuk dikembangkan, karena perkembangan bahasa dan perilaku yang dilakukannya dapat diketahui dengan mengamati perkembangan berbicara anak. Pengembangan bicara merupakan suatu hal yang esensial dan sangat dibutuhkan oleh anak, sebab pengembangan bicara itu sangat berguna bagi anak untuk memperlancar kemampuan dan keterampilan berbicara anak itu sendiri.

Menurut Suhartono (2005: 122) bahwa yang dimaksud dengan pengembangan bicara anak yaitu usaha meningkatkan kemampuan anak untuk berkomunikasi secara lisan sesuai dengan situasi yang dimasukinya. Jadi, tujuan utama dalam pengembangan bicara anak adalah agar anak memiliki keterampilan berbicara yang baik serta memiliki kemampuan berkomunikasi secara lisan dengan lancar.

Anak yang sejak kecil dilatih dan dibimbing untuk berbicara secara tepat dan baik, akan mampu berpikir kritis dan logis. Dengan membimbing anak berbicara sejak usia dini akan memberikan banyak manfaat bagi kemampuan anak. Anak akan mampu mengungkapkan isi hatinya (pendapat, sikap) secara lisan dengan lafal yang tepat. Yang berarti bahwa tujuan umum dari pengembangan bicara tersebut adalah: (a) anak dapat melafalkan bunyi bahasa yang digunakan secara tepat; (b) anak mempunyai perbendaharaan kata yang memadai untuk keperluan berkomunikasi; dan (c) anak mampu menggunakan kalimat secara baik untuk berkomunikasi secara lisan (Suhartono, 2005: 123).

Pada anak usia TK (4-6 tahun), kemampuan berbahasa yang umum dan efektif digunakan adalah berbicara. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa pada anak usia tersebut. Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, membandingkan dua hal, memahami konsep timbal balik, menyusun kalimat, mengucapkan lebih dari tiga kalimat, dan mengenal tulisan sederhana (Nurbiana Dhieni, 2005: 3.7).

Anak usia Taman Kanak-kanak mempunyai karakteristik khusus dalam kemampuan berbahasa atau berbicara, antara lain sudah dapat bicara lancar dengan kalimat sederhana, mengenal sejumlah kosakata, menjawab dan membuat pertanyaan sederhana, serta menceritakan kembali isi cerita.

Nurbiana Dhieni (2005: 3.8) menyebutkan bahwa untuk mengembangkan keterampilan berbicara anak membutuhkan reinforcement (penguat), reward (hadiah, pujian), stimulasi, dan model atau contoh yang baik dari orang dewasa agar keterampilan berbicaranya dapat berkembang secara maksimal.

Dalam linguistik dijelaskan bahwa berbicara memiliki karakteristik atau ciri-ciri khusus, yaitu:

  1. Bertujuan, kegiatan berbicara membawa seseorang mencapai tujuan dan
  2. Bersifat interaktif, ada dialog sehingga proses komunikasi akan
  3. Kesementaraan, proses komunikasi hanya terjadi selama proses pembicaraan
  4. Terjadi dalam bingkai khusus, yakni komunikasi hanya terjadi pada waktu tertentu, mengambil tempat tertentu, ada topik, dan kedua belah pihak dalam keadaan siap.
  5. Alfa (tidak memperhatikan) tanda
  6. Kata-kata terbatas

Perkembangan berbicara pada anak berlangsung cepat, seperti terlihat dalam berkembangnya pengertian dan berbagai keterampilan berbicara, ini memberikan dampak yang kuat terhadap jumlah bicara dan isi pembicaraan (Hurlock, 1980: 140). Perkembangan bahasa anak Taman Kanak-kanak berada pada tahap ekspresif, sehingga anak dapat mengungkapkan keinginannya, penolakan maupun pendapatnya dengan menggunakan bahasa lisan untuk digunakan dalam proses komunikasi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Berbicara Anak TK

Dalam berkomunikasi harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan berbicara. Menurut Arman Agung (Siti Manar Mufidah, 2010: 55), ada dua faktor yang mempengaruhi keterampilan berbicara yaitu: a) faktor internal, dan b) eksternal.

Faktor internal

Faktor internal merupakan segala potensi yang ada dalam diri seseorang. Faktor internal meliputi: a) faktor fisik, dan b) non fisik (psikis).

  • Faktor fisik, merupakan faktor yang menyangkut dengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan di dalam berbicara, dalam hal ini meliputi pita suara, lidah, gigi, dan
  • Faktor non fisik (psikis), merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi psikologis seseorang dan tidak berhubungan dengan fisik. Faktor psikis keterampilan berbicara meliputi: (1) kepribadian (kharisma), (2) karakter dan temperamen, (3) bakat (talenta), (4) tingkat intelegensi, dan (5) kreativitas.
    • Kepribadian (kharisma)

Kepribadian yang dimiliki mempengaruhi cara seseorang berbicara.

    • Karakter dan temperamen

Karakter merupakan hasil dari cara berpikir dan berperilaku. Karakter dimulai dari pola pikir yang kemudian diwujudkan dalam tindakan, yang bila dilakukan secara terus-menerus akan menjadi suatu kebiasaan. Karakter atau sering disebut juga temperamen merupakan sifat batin yang secara tetap mempengaruhi perbuatan, perasaan, dan pikiran seseorang. Misalnya, karakter periang, penyedih, pemberani, teliti, dan sebagainya.

    • Bakat (talenta)

Bakat adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada seseorang. Bakat perlu digali hingga muncul kepermukaan (karena pada dasarnya bakat adalah sesuatu yang telah ada sebelumnya).

    • Tingkat intelegensi

Kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

    • Kreativitas

Kreativitas memiliki kedudukan yang hampir sama dengan intelegensi. Kreativitas adalah salah satu ciri dari berpikir inteligen, karena keduanya merupakan manifestasi dari berfikir kognitif. Kaitannya dengan keterampilan berbicara, berpikir kreatif yang diasah maka mampu untuk memunculkan keterampilan-keterampilan tertentu pada individu.

    • Faktor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu yang meliputi tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan. Hurlock (1978: 176) mengungkapkan ada dua kriteria yang dapat digunakan untuk memutuskan apakah anak berbicara dalam artian yang benar atau hanya “membeo”. Pertama, anak harus mengetahui arti kata yang digunakannya dan mengaitkannya dengan objek yang diwakilinya. Kedua, anak harus melafalkan kata-katanya sehingga orang lain memahaminya dengan mudah. Kata-kata yang hanya dapat dipahami anak karena sudah sering mendengarnya atau karena telah belajar memahaminya dan menduga apa yang sedang dikatakan tidak memenuhi kriteria tersebut.

Hurlock (1980: 115) juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara adalah: a) intelegensi, b) jenis disiplin, c) posisi urutan (urutan kelahiran), d) besarnya keluarga, e) berbahasa dua, dan f) jenis kelamin.

  • Intelegensi

Semakin cerdas anak, semakin cepat keterampilan berbicara dikuasai sehingga semakin cepat dapat berbicara.

  • Jenis disiplin

Anak yang dibesarkan dengan disiplin yang cenderung lemah lembut lebih banyak berbicara daripada anak yang orang tuanya bersikap keras.

  • Posisi urutan (urutan kelahiran)

Anak sulung didorong untuk lebih banyak berbicara daripada adiknya.

  • Besarnya keluarga

Anak tunggal didorong untuk lebih banyak berbicara daripada anak- anak dari keluarga besar dan orang tuanya punya lebih banyak waktu untuk berbicara dengannya. Dalam keluarga besar, disiplin yang ditegakkan lebih otoriter sehingga menghambat anak-anak untuk berbicara sesukanya.

  • Berbahasa dua

Meskipun anak yang berasal dari keluarga yang menggunakan dua bahasa lebih banyak memiliki perbendaharaan kata daripada anak yang berasal dari keluarga berbahasa tunggal, tetapi pembicaraannya akan sangat terbatas jika anak tersebut berada dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa di luar rumah.

  • Jenis kelamin

Terdapat efek penggolongan jenis kelamin pada pembicaraan anak sekalipun masih dalam masa prasekolah (usia Taman Kanak-kanak). Anak laki-laki diharapkan sedikit bicara dibandingkan anak perempuan. Apa yang dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya diharap berbeda dari anak perempuan. Membual dan mengkritik lebih cocok untuk anak laki-laki, sedangkan anak perempuan wajar bila mengadukan sesuatu.

Selanjutnya, menurut Nurbiana Dhieni (2005: 3.5) ada beberapa faktor yang dapat dijadikan ukuran kemampuan berbicara seseorang yang terdiri dari aspek kebahasaan dan non kebahasaan, aspek kebahasaan meliputi: (a) ketepatan ucapan; (b) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai; (c) pilihan kata; (d) ketepatan sasaran pembicaraan, sedangkan untuk aspek non kebahasaan meliputi: (a) sikap tubuh, pandangan, bahasa tubuh, dan mimik yang tepat; (b) kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain; (c) kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara; (d) relevansi, penalaran dan penguasaan terhadap topik tertentu.

Sejalan dengan pendapat di atas, Sabarti Akhadiah, dkk (1992: 154- 160) menyebutkan bahwa faktor penunjang dalam keterampilan berbicara ialah: a) aspek kebahasaan, dan b) aspek non kebahasaan.

Aspek kebahasaan

  • Ketepatan ucapan (pelafalan bunyi), anak harus dapat mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat dan
  • Penempatan tekanan, nada, jangka, intonasi, dan ritme

Penempatan tekanan, nada, jangka, intonasi, dan ritme yang sesuai akan menjadi daya tarik tersendiri dalam berbicara, bahkan merupakan salah satu faktor penentu dalam keefektifan berbicara.

  • Penggunaan kata dan Kalimat

Penggunaan kata sebaiknya dipilih yang memiliki makna dan sesuai dengan konteks kalimat. Anak juga perlu dilatih menggunakan struktur kalimat yang benar.

Aspek non kebahasaan

  • Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku

Dalam berbicara harus bersikap wajar, tenang, dan tidak kaku. Wajar berarti berpenampilan apa adanya, tidak dibuat-buat. Lalu, sikap tenang adalah sikap dengan perasaan hati yang tidak gelisah, tidak gugup, dan tidak tergesa-gesa. Selanjutnya, dalam berbicara juga tidak boleh kaku.

  • Pandangan yang diarahkan kepada lawan bicara

Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara agar lawan bicara memperhatikan topik yang sedang dibicarakan serta lawan bicara merasa dihargai.

  • Kesediaan menghargai pendapat orang lain

Dengan menghargai pendapat orang lain berarti telah belajar menghormati pemikiran orang lain.

  • Gerak-gerik dan mimik yang tepat

Gerak-gerik dan mimik yang tepat berfungsi untuk membantu memperjelas atau menghidupkan pembicaraan.

  • Kenyaringan suara

Tingkat kenyaringan suara disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar, dan akustik (ruang dengar) yang ada, yaitu tidak terlalu nyaring dan tidak terlalu lemah.

  • Kelancaran

Kelancaran dalam berbicara akan mempermudah untuk menangkap isi pembicaraan yang disampaikan.

  • Penalaran dan relefansi

Yaitu hal yang disampaikan memiliki urutan yang runtut dan memiliki arti yang logis serta adanya saling keterkaitan atau hubungan dari hal yang disampaikan.

Berdasarkan faktor-faktor yang disampaikan di atas, dapat diketahui bahwa keterampilan berbicara sangatlah penting untuk diajarkan kepada anak usia TK. Sebab pada dasarnya, anak usia TK selalu ingin mengungkapkan apa yang dipikirkan tanpa memperhatikan apakah yang disampaikan dapat di mengerti arti dan maksudnya oleh orang lain. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dirancang suatu pembelajaran yang dapat menstimulasi dan melatih keterampilan berbicara anak dengan baik, sehingga anak dapat berkomunikasi dengan lancar menggunakan bahasa yang mudah dipahami orang lain dan keterampilan berbicaranya akan meningkat.

Pembelajaran untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak TK

Pembelajaran tematik

Menurut Nurbiana Dhieni (2005: 9.7) kegiatan pembelajaran hendaknya dirancang oleh guru dengan menggunakan pendekatan tematik dan beranjak dari tema yang menarik bagi anak. Tema merupakan alat/sarana atau wadah untuk mengenalkan konsep pada anak. Tema diberikan dengan tujuan: 1) menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh; dan 2) memperkaya perbendaharaan kata anak.

Sejalan dengan pendapat Nurbiana Dhieni, Mamat (2005: 11) mengatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan proses pembelajaran yang penuh makna dan berwawasan metakurikulum, yaitu pembelajaran yang berwawasan dua hal pokok: 1) penguasaan bahan ajar yang lebih bermakna bagi kehidupan anak; dan 2) pengembangan kemampuan berpikir matang dan bersikap dewasa agar dapat mandiri dalam memecahkan masalah kehidupan. Yang berkaitan dengan pembelajaran bermakna adalah: (a) apersepsi, yaitu memulai pembelajaran dengan hal-hal yang nyata atau diketahui dan dipahami anak. Anak akan termotivasi dengan pembelajaran yang menarik dan berguna bagi anak, sehingga anak merasa tertarik untuk mengetahui hal-hal baru; dan (b) eksplorasi, yang meliputi keterampilan atau materi baru yang diperkenalkan, mengaitkan kegiatan baru dengan pengetahuan yang sudah ada sehingga anak mudah memahami apa yang diajarkan, dan ketepatan menentukan beberapa metode dalam proses pembelajaran. Proses ini akan lebih bermakna apabila anak terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Jika pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan tema, maka pemilihan tema dalam kegiatan pembelajaran hendaknya dikembangkan dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana serta mampu menarik minat anak. Penggunaan tema dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. Penggunaan tema dalam pembelajaran di TK sangat bermanfaat khususnya dalam pembelajaran bahasa, karena akan menjadikan pembelajaran lebih bermakna bagi anak. Disamping itu, secara tidak langsung pendekatan tematik akan memberikan kekayaan bahasa pada anak, karena melalui tema dan subtema tersebut anak mendapatkan perbendaharaan kosakata baru. Kata-kata baru yang dikenalnya tersebut akan diingat dan dipahami anak, untuk kemudian digunakan oleh anak dalam bahasa lisan (Nurbiana, 2005: 9.7).

Pembelajaran dengan pendekatan tematik secara umum dilaksanakan mengikuti tiga tahapan, yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan; dan 3) evaluasi (Mamat, 2005: 33). Dalam kegiatan perencanaan guru harus mampu memilih dan mengembangkan tema secara tepat. Dalam kegiatan perencanaan pula guru menyusun rencana kegiatan harian (RKH), alat dan sumber belajar yang akan digunakan, serta alat/instrumen penilaian yang akan digunakan untuk menilai perkembangan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki anak.

Selanjutnya, dalam kegiatan pelaksanaan pembelajaran tematik mengikuti langkah-langkah yaitu: 1) kegiatan pembukaan/awal, 2) kegiatan inti, dan 3) kegiatan penutup/akhir.

  • Kegiatan pembukaan/awal, kegiatan pembukaan merupakan kegiatan untuk apersepsi yang sifatnya pemanasan. Kegiatan ini dilakukan untuk menggali pengalaman anak tentang tema yang Selain itu, guru juga harus mampu memfasilitasi suatu kegiatan yang mampu menarik anak mengenai tema yang akan diberikan, kegiatan itu antara lain melalui menyanyi, cerita, atau kegiatan olah raga.
  • Kegiatan inti, pembelajaran pada kegiatan inti menekankan pada pencapaian indikator yang Pembelajaran diarahkan pada kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dengan bermain sambil belajar. Pelaksanaan kegiatan inti disesuaikan dengan rencana kegiatan harian (RKH) yang telah disusun.
  • Kegiatan penutup/akhir, kegiatan penutup dilakukan dengan mengungkap hasil pembelajaran, yaitu dengan cara menanyakan kembali kegiatan yang telah dilaksanakan dalam satu hari selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Dalam pembelajaran tematik, evaluasi/penilaian merupakan usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan serta perkembangan kemampuan yang telah dicapai anak.

Pembelajaran untuk keterampilan berbicara

Keterampilan berbicara merupakan bagian dari pengembangan kemampuan berbahasa anak, dimana kemampuan berbahasa dipelajari dan diperoleh anak secara alamiah untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Sebagai alat sosialisasi dan komunikasi, bahasa merupakan cara untuk merespon orang lain.

Dalam kegiatan pengenalan dan pembelajaran berbahasa, Slamet Suyanto (2005: 172) mengatakan bahwa untuk melatih anak berkomunikasi secara lisan yaitu dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan anak berinteraksi dengan teman dan orang lain. Guru dapat mendesain berbagai kegiatan yang dapat memungkinkan anak mengungkapkan ide, perasaan, dan emosinya. Berikut beberapa contoh kegiatan untuk melatih komunikasi lisan pada anak (Slamet Suyanto, 2005: 173-174) yaitu: a) bermain drama (dramatic play), b) bermain paralel dan kooperatif (parallel and cooperative play), dan c) menunjukkan dan menceritakan (show and tell).

  • Bermain drama (dramatic play) seperti dokter-pasien, bermain keluarga, dan bermain jual-beli.
  • Bermain paralel dan kooperatif (parallel and cooperative play) Bermain dengan pasir, air, dan balok dimana anak bermain sendiri di tempat yang sama dengan media yang sama akan memungkinkan anak bermain Anak akan melihat bagaimana temannya bermain dan ikut menirukannya. Selain bermain paralel, bermain secara kooperatif juga dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak dalam berkomunikasi.
  • Menunjukkan dan menceritakan (show and tell) Anak secara bergilir dan bergantian diminta untuk menceritakan pengalamannya di depan teman-teman yang lain, dengan anak bercerita secara langsung melalui permainan yang telah dirancang oleh guru.

Dari uraian di atas, maka salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan berbicara anak yaitu dengan menunjuk dan menceritakan, dimana pembelajaran berbahasa dapat dirancang sedemikian rupa sehingga akan menarik dan menyenangkan bagi anak. Dalam hal ini, kegiatan menunjukkan dan menceritakan dapat dilakukan melalui permainan. Permainan yang menarik dan tidak banyak aturan pada umumnya disukai anak-anak. Guru dapat menggunakan permainan untuk membelajarkan anak. Caranya dengan guru mengajarkan permainan tersebut kepada anak. Setelah anak mampu memainkannya, guru menambah muatan edukatif pada permainan tersebut, sehingga secara tidak langsung anak bermain. Membelajarkan anak dengan bermain dikenal dengan bermain sambil belajar (Slamet Suyanto, 2005: 43).

Dengan demikian, dalam penelitian ini menggunakan permainan khususnya permainan kliping gambar untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak, karena dalam kegiatan pembelajaran tersebut dirancang supaya anak belajar dalam keadaan yang menyenangkan melalui kegiatan bermain permainan yang sesuai dengan tema dalam pembelajaran.

Pembelajaran dengan metode bermain

Menurut Siti Partini Suardiman (2003: 50), apabila seorang guru akan menggunakan metode bermain permainan dalam pembelajaran, perlu melakukan langkah-langkah seperti berikut ini.

  • Menentukan tujuan dan tema kegiatan bermain
  • Memilih bahan dan peralatan bermain

Gordon dan Browne (Siti Partini Suardiman, 2003: 51) menyatakan ada berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dan peralatan bermain, yaitu: (a) mengundang perhatian semua anak, yakni bahan yang dapat memuaskan kebutuhan, menarik minat, dan yang menyentuh perasaan anak; (b) memilih bahan yang dapat memenuhi bermacam tujuan pengembangan seluruh aspek perkembangan anak; (c) memilih bahan     yang     dapat     memperluas      kesempatan     anak     untuk menggunakannnya dengan bermacam cara.

  • Menentukan urutan langkah permainan.
  • Kegiatan bermain sesuai urutan langkah-langkahnya.
  • Menutup kegiatan bermain permainan.

Tags:

Diposting oleh Adica


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *